RI Sudah Produksi Bahan Baku Obat, Tapi Harganya Lebih Mahal dari Impor

ADVERTISEMENT

RI Sudah Produksi Bahan Baku Obat, Tapi Harganya Lebih Mahal dari Impor

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 04 Okt 2022 07:30 WIB
Direktur Utama PT Kimia Farma, David Utama
Direktur Utama PT Kimia Farma, David Utama/Foto: Shafira Cendra Arini/detikcom
Cikarang -

Pemerintah melalui holding farmasi BUMN, yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah membangun industri bahan baku obat (BBO). Langkah ini diambil sebagai upaya mendorong kemandirian dan ketahanan nasional.

Saat ini impor BBO untuk industri obat dalam negeri terpaut sangat tinggi mencapai 95%. Bagaimana tidak, jumlah industri yang membutuhkan mencapai 240, sementara perusahaan lokal yang memproduksi BBO hanya PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), anak usaha KAEF.

Akibatnya industri memilih impor BBO dari China dan India karena harga yang lebih murah dibandingkan produksi KFSP. Harga obat dalam negeri pun juga bergantung dengan komoditas dunia.

Direktur Utama Kimia Farma, David Utama menjelaskan, tujuan utama pemerintah mendorong produksi BBO dalam negeri untuk ketahanan nasional kemandirian Indonesia dalam industri farmasi dari hulu ke hilir, bukan dari segi komersil.

"Kuncinya satu, BBO itu strategi ketahanan nasional bukan untuk kompetisi. Banyak orang yang pemikirannya salah. 'Kalian ini mahal, nggak bisa bersaing sama China sama India'. Saya bilang jawabannya bukan itu," ujar David di Cikarang, Senin (03/10/2022).

Menurutnya, apabila prospek dari usaha BBO ini sebegitu menggiurkannya, pasti akan banyak pengusaha yang menjajal. Namun kenyataannya tidak demikian. Oleh karena itu, hingga kini KFSP menjadi satu-satunya yang memproduksi BBO di Indonesia dengan dukungan pemerintah.

"China, India itu kan produksi untuk dunia. Volumenya bisa ribuan, jadi jelas harganya lebih murah. Kita harapkan nanti kalau permintaan kita dan volume produksi meningkat, harganya juga bisa lebih bersaing," jelasnya.

Apabila industri dalam negeri semakin banyak yang menggunakan BBO dari KFSP, David mengatakan, harga BBO dalam negeri pun bisa lebih murah. Dan kemungkinan untuk merambah pasar global pun semakin besar.

Tidak hanya itu, apabila pasar lokal telah menggunakan BBO KFSP, angka tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pun berpotensi meningkat lebih dari 50%. David mengklaim, seluruh produk obat yang diproduksi Kimia Farma rata-rata TKDN-nya di atas 65%.

"Penggunaan raw material atau bahan baku lokal menjadi salah satu kunci utama supaya TKDN produk RI bisa lebih dari 50%," tambahnya.

Simak juga video 'Ikatan Apoteker Dorong Pemerintah Tak Lagi Impor Bahan Baku Obat':

[Gambas:Video 20detik]



RI bisa hemat impor BBO Rp 3,7 triliun. Cek halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT