Pendapatannya Ajib Banget tapi Laba Bersih Sampoerna Jeblok 11,7%, Ada Apa Nih?

ADVERTISEMENT

Pendapatannya Ajib Banget tapi Laba Bersih Sampoerna Jeblok 11,7%, Ada Apa Nih?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 01 Nov 2022 14:52 WIB
Rokok Sampoerna mild.  dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: dikhy sasra
Jakarta -

PT HM Sampoerna Tbk membukukan pendapatan bersih senilai Rp 83,4 triliun selama 2022, atau naik sebesar 15% dari tahun sebelumnya. Meski menunjukkan pertumbuhan positif, profitabilitas perusahaan masih mengalami penurunan dibanding masa pra pandemi.

President Director HM Sampoerna Vassilis Gkatzelis mengungkapkan, laba bersih perusahaan selama 2022 sebesar Rp 4,9 triliun, masih mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, yakni turun 11,7%. Tidak hanya itu, laba kotor pun turun 1,8% menjadi Rp 12,5 triliun selama 2022 hingga bulan September. Secara signifikan, angka-angka tersebut masih lebih rendah dari periode pra pandemi.

"Sejak 2020 profitabilitas kami sangat terdampak oleh kenaikan cukai dua digit dan melebarnya kesenjangan cukai. Ditambah lagi, dengan adanya penurunan daya beli yang mengakibatkan signifikan down trading pada konsumen," kata Gkatzelis, dalam paparan Public Expose PT HM Sampoerna Tbk, Selasa (01/11/2022).

Menurutnya, peningkatan jarak pajak cukai sedikit banyak memberikan pengaruh pada pendapatannya, termasuk juga memberi sumbangsih bagi inflasi RI. Sebagai contoh, pada kategori sigaret kretek mesin (SKM) melebar dari Rp 195 per batang pada 2017 menjadi Rp 385 per batang di 2022.

Gkatzelis menyebut, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi profitabilitas di industri hasil tembakau (IHT), yang pertama ialah dua angka tarif cukai yang besarannya di atas inflasi, kemudian melebarnya jarak tarif cukai golongan 1 dengan golongan 2 dan 3. Dan yang terakhir kemampuan atau daya beli konsumen.

"Dan saat ini kita melihat ada jarak cukai sekitar 40% antara golongan I dengan golongan II. tentunya hal ini telah mengakibatkan dampak terhadap profitabilitas industri khususnya di golongan I, dan sampoerna adalah salah satu yang terdampak," kata Gkatzelis.

"Hal ini secara tidak proporsional berdampak pada produsen volume golongan 1 dan memicu adanya down trading. Kami berharap kebijakan fiskal mendukung jarak cukai yang berkelanjutan serta memenuhi pemulihan ekonomi, kesehatan masyarakat, ketenagakerjaan, serta target penerimaan negara," sambungnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT