Dibutuhkan buat Pembangunan Nasional, Produksi Baja RI Perlu Digenjot

ADVERTISEMENT

Dibutuhkan buat Pembangunan Nasional, Produksi Baja RI Perlu Digenjot

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 23 Nov 2022 16:08 WIB
PT Krakatau Steel (persero) Tbk kembali membangun pabrik pipa baja untuk anak perusahaannya, PT Krakatau Hoogoven Indonesia di Cilegon. Total Investasinya mencapai Rp 335,6 miliar dengan target´┐Ż kapasitas produksi 150.000 ton per-tahun. Yuk, kita lihat proses produksi pipa baja di pabrik tersebut.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Industri baja nasional menjadi salah satu industri yang berperan penting dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Apa lagi Indonesia tengah melakukan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).

Tak hanya itu industri ini juga dibutuhkan untuk akselerasi pembangunan infrastruktur pendukung transformasi ekonomi, hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam termasuk Industri Kendaraan Listrik.

Namun saat ini industri baja nasional masih menghadapi tantangan di mana utilisasi kapasitas produksi nasional masih sangat rendah yaitu rata-rata 54%, masih jauh dari good utilization sebesar 80%. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya jumlah produk baja impor yang masuk ke Indonesia.

"Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami bersama para profesional di bidang industri terus berupaya menyuarakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui seminar yang juga diadakan bersama institusi pendidikan di IBF 2022 ini," kata Chairman The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim, Rabu (23/11/2022).

Oleh karena itu pihaknya bersama Kadin akan menggelar IISIA Business Forum (IBF) 2022 pada tanggal 1-3 Desember 2022 di Grand City & Exhibition Centre, Surabaya - Jawa Timur. Melalui IBF 2022 diharapkan dapat mempertemukan seluruh stakeholder industri baja nasional, termasuk diantaranya pelaku industri baja, konstruksi, manufaktur dan infrastruktur, pemerintah, masyarakat pengguna baja maupun perguruan tinggi serta pemangku kepentingan lainnya untuk membangun sinergi dan juga merumuskan kebijakan pengembangan industri baja nasional.

Ketua Umum KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid juga menyampaikan bahwa kontribusi ekspor besi dan baja masuk lima besar komoditas utama. Permintaan domestik dan ekspor besi baja meningkat seiringan pemulihan perekonomian nasional pasca pandemi COVID-19.

"Peluang pasar domestik yang besar, seiring dengan instruksi presiden tentang pelarangan belanja impor terhadap produk yang bisa diproduksi di dalam negeri dan pengoptimalan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) pada lintas sektor," lanjut Arsjad.

Arsjad juga menyampaikan bahwa daya saing Infrastruktur Indonesia secara global saat ini berada pada posisi ke-55 mengalami peningkatan dari posisi ke-57 pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan di bidang infrastruktur, namun belum cukup memadai karena masih tertinggal dari negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia

Acara IBF 2022 ini juga mendukung keberadaan UMKM di daerah Jawa Timur dengan menghadirkan Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) yang menyajikan hidangan khas Jawa Timur, kerajinan tangan, maupun produk-produk lokal khas Jawa Timur.

"Dengan adanya IBF 2022 ini, kami berharap perekonomian Indonesia dapat kembali bergerak, dimulai dari UMKM yang kami undang hingga industri baja sebagai penopang industri nasional Indonesia. Kesemuanya kami harapkan dapat memberikan kemajuan bagi Indonesia, seperti tema IBF 2022 ini yaitu Industri Baja Nasional untuk Indonesia Maju," tutup Arsjad.

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT