COVID-19 Melandai, Laba Holding BUMN Farmasi Diprediksi Menciut ke Rp 769 M

ADVERTISEMENT

COVID-19 Melandai, Laba Holding BUMN Farmasi Diprediksi Menciut ke Rp 769 M

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 24 Nov 2022 11:55 WIB
Vaksin Biofarma
Ilustrasi/Foto: detikcom/Firdaus Anwar
Jakarta -

Holding BUMN farmasi memperkirakan laba bersih yang dicetak perseroan sampai akhir 2022 menyusut tajam dibanding tahun lalu. Hal ini dikarenakan pendapatan dari produk terkait COVID-19 sudah jauh berkurang seiring landainya pandemi.

Holding BUMN farmasi terdiri dari PT Bio Farma (Persero), PT Kimia Farma (Tbk), PT Indofarma (Tbk), dan terbaru INUKI. Sampai September 2022, pihaknya sudah mengantongi pendapatan Rp 15,9 triliun.

"Di 2022 komposisi sudah terbalik, jadi reguler lebih besar dibandingkan dengan penugasan terkait COVID-19 yang memang seperti kita ketahui sudah terjadi pelandaian. Sampai September 2022 dari Rp 15,9 triliun itu, pendapatan dari reguler mencapai Rp 11,3 triliun dan terkait COVID-19 Rp 4,6 triliun," kata
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko & SDM Bio Farma I.G.N Suharta Wijaya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (24/11/2022).

Sampai akhir 2022, holding BUMN farmasi menargetkan bisa mengantongi pendapatan Rp 22,2 triliun. Rincian komposisinya dari penanganan COVID-19 Rp 5,99 triliun, sementara reguler Rp 16,2 triliun.

"Memang ini dibandingkan 2021 ada penurunan 49% yang memang kita ketahui sangat terpengaruh dengan kondisi pandemi yang ada," tuturnya.

Sejalan dengan itu, laba holding BUMN farmasi sampai akhir 2022 ditargetkan mencapai Rp 769 miliar. Sampai September 2022, pihaknya baru mengantongi laba Rp 144 miliar.

"Kami menargetkan (2022) akan mencapai laba secara keseluruhan Rp 769 miliar, di mana kontribusi terbesar Rp 738 miliar dari produk reguler, sementara produk terkait COVID hanya Rp 31 miliar," jelas Suharta.

Target perolehan laba tersebut menyusut tajam jika dibandingkan saat pandemi COVID-19. Sebagai informasi holding BUMN farmasi membukukan laba Rp 289 miliar pada 2020 dan melonjak jadi Rp 1,93 triliun pada 2021, yang dominan berasal dari penjualan produk dan jasa terkait COVID-19.

"Di 2022 saat pandemi sudah melandai, pendapatan terkait produk terkait COVID sudah jauh berkurang sehingga kami harus melakukan lebih banyak lagi upaya untuk meningkatkan pendapatan dari produk reguler," tandasnya.

Simak juga Video: Momen Jokowi Disuntik Vaksin Covid-19 Keempat Pakai IndoVac

[Gambas:Video 20detik]



(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT