Terkuak! Ini Daftar Industri RI yang Kondisinya Lagi Berat

ADVERTISEMENT

Terkuak! Ini Daftar Industri RI yang Kondisinya Lagi Berat

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 07 Des 2022 18:30 WIB
Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada tahun depan berpotensi menghambat momentum pertumbuhan dan pemulihan industri, khususnya tekstil.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sejumlah subsektor industri mengalami tekanan. Hal itu berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang baru saja dirilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, dari survei yang telah dilakukan didapati 11 subsektor ekspansi. Kemudian, sebanyak 12 subsektor mengalami kontraksi.

Ia merinci, subsektor yang mengalami tekanan yakni subsektor komputer dan barang sejenis, minuman, bahan kimia, pakaian jadi, karet dan barang dari karet. Lalu, furnitur, pengolahan lainnya, kulit dan barang kulit, barang galian, pencetakan, tekstil, dan kayu dan barang dari kayu.

"Ini yang sedang kontraksi. Ini yang menjadi perhatian kami," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Agus menjelaskan, selama ini angka kepercayaan industri didapatkan dari dua sumber yakni berdasarkan survei yang dilakukan oleh Markit dan Bank Indonesia (BI). Dia mengatakan, selama ini pihaknya tidak bisa secara detil melakukan penilaian dan analisa terhadap subsektor yang mengalami peningkatan kepercayaan atau ekspansi, stagnan, ataupun kontraksi.

Jelasnya, Markit melakukan survei dengan melibatkan 400 responden atau perusahaan. Namun, sepanjang sejarahnya, pihaknya tak memiliki akses perusahaan mana yang disurvei.

"Sementara survei PMI yang dilakukan BI ini melibatkan 8 sektor industri. Perbedaannya dengan IKI, Indeks Kepercayaan Industri kita menggunakan responden at least 2.000 responden setiap survei dan kita mensurvei 23 subsektor yang ada di sektor manufaktur," ungkapnya.

Dari hasil survei pertama yang dilakukan didapatkan hasil 50,89, di mana hal ini menunjukkan pada level ekspansi. Dari survei tersebut tercatat, 11 subsektor ekspansi dan 12 subsektor kontraksi.

"11 subsektor yang ekspansif itu dapat kami laporkan mewakili 71,3% dari kontribusi GDP manufaktur. Jadi not bad 71,3% dari total industri menurut pandangan kami masih dalam kondisi baik, masih ekspansif," ungkapnya.

Memang, beberapa sektor mengalami tekanan. Salah satunya ialah subsektor tekstil. Saat ini, pihaknya sedang mencari jalan keluar supaya subsektor itu tidak mengalami tekanan lebih dalam.

"Salah satu subsektor yang memang mengalami kesulitan akibat pelemahan dari pasar Eropa ini adalah subsektor tekstil. Ini menjadi perhatian kami dan kami sekarang setiap hari melakukan rapat-rapat untuk melakukan mitigasi, dan mencarikan solusi agar supaya subsektor tekstil yang sekarang sedang terpukul, itu terpukulnya tidak lebih jauh dan kita bisa segera angkat," paparnya.



Simak Video "Pemerintah Masih Godok Subsidi Kendaraan Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT