Anwar Ibrahim Sebut Indonesia-Malaysia Bisa Buat 'OPEC' Kelapa Sawit

ADVERTISEMENT

Anwar Ibrahim Sebut Indonesia-Malaysia Bisa Buat 'OPEC' Kelapa Sawit

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 09 Jan 2023 17:56 WIB
Anwar Ibrahim datang ke CT Corp Leadership Forum
Foto: Chelsea Olivia Daffa
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Malaysia Dato Sri Anwar Ibrahim mengungkapkan, Indonesia dan Malaysia telah membentuk kerja sama di industri kelapa sawit sejak 2015. Namun sayangnya, hingga kini kerja sama tersebut belum menghasilkan kemajuan.

Anwar menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara pemberi sumbangsih kelapa sawit terbesar di dunia, disusul dengan Malaysia. Karena itulah menurutnya apabila kerjasama ini dapat berjalan, 'OPEC' kelapa sawit bisa terbentuk.

"Satu strategi bersama, banyak kelapa sawit. Indonesia sekitar 98%, yang kedua Malaysia. Kalau kita ada kesepaketan itu, itu OPEC dalam kelapa sawit. Cuma sudah diwujudkan sejak 2015, tapi tidak berkembang karena masing-masing lembab sedikit dalam tindakannya," katanya, dalam acara CT Corp LeadershipForum di Gedung Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (09/01/2022).

Tidak hanya di sektor kelapa sawit, Anwar mengatakan, jalinan kerja sama juga bisa dibuat dalam sektor renewable energy. Apabila tenaga kedua negara ini digabungkan, menurutnya bisa membentuk salah satu industri renewable energy yang terdepan.

Menanggapi perihal China yang terus memperkuat petro yuan, Anwar mengatakan, hingga saat ini dirinya belum terpikir untuk mengambil langkah serupa dengan membuat konsep menyatukan mata uang Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, kerjasama dalam menyatukan strategi di bidang kelapa sawit dan renewable energy yang ia sebutkan sebelumnya menjadi salah satu yang perlu diutamakan.

Kendati demikian, menurutnya, penting untuk mengurangi ketergantungan dengan dolar mengingat saat ini imbas dari gejolak ekonomi global cukup besar terasa karena baik Malaysia maupun RI bergantung pada dolar. Hanya saja, Anwar mengatakan, apabila melepas dolar, tetap akan ada resiko besar yang menanti.

"Saya setuju, kita tidak boleh hanya bergantung pada dolar. Dia mesti basket of currency. Ada periode lead 90's yen meningkat. Sekarang yuan meningkat. Jadi kalau kira mau terus melepaskan dolar itupun beresiko juga," katanya.

Menurutnya, saat ini langkah terpenting adalah bagaimana memastikan untuk memperkuat kerjasama dengan negara-negara tetangga, dalam hal ini ASEAN, terlebih dulu. Anwar juga menjamin, negaranya akan memberikan dukungan penuh kepada RI selama memimpin ASEAN.

"Kita, terutama malaysia sebagai negara kecil, harus pastikan hubungan kita pertama bersama Indonesia atau ASEAN kompak kuat, tetapi hubungan kita dengan barat dan China harus baik. As a trading nation," kata Anwar.

"ASEAN ini sekarang agak sedikit muram. Tapi giliran Indonesia mengetuai ASEAN, saya berikan jaminan. Untuk Malaysia, kita berikan seluruh dukungan, supaya kepemimpinan giliran Indonesia tahun ini ASEAN cukup berkesan dan apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan bersama," pungkasnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT