Ada Prediksi Kurang Enak Nih buat Industri Sawit, Buruan Cek

ADVERTISEMENT

Ada Prediksi Kurang Enak Nih buat Industri Sawit, Buruan Cek

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 25 Jan 2023 23:02 WIB
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Pengusaha memperkirakan kinerja produksi sawit tahun ini akan cenderung stagnan. Tren stagnan sudah terjadi sejak 2019 lalu.

"Angka produksi tahun ini saya rasa masih stagnan. Bisa naik sedikit bisa turun sedikit. Tapi cenderung flat," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono dalam konferensi pers Kinerja Industri Sawit 2022 di Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Joko menjelaskan salah satu penyebab stagnasi produksi sawit karena peremajaan sawit yang cukup terlambat. Ia juga mengungkap masalah pupuk juga berdampak buruk pada kinerja produksi tandan buah segar (TBS) sawit.

"Jadi cara yang signifikan harusnya adalah replanting. Betul-betul diganti bibit yang protas jauh tinggi. Nah itu kan perlu proses. Jadi menurut saya sih memang kinerja replanting itu menurut saya belum maksimal," kata Joko.

Joko berharap masing-masing perusahaan tetap bisa meningkatkan produktivitas dari sawitnya. Jika tidak ada inisiatif sendiri, kemungkinan perusahaan sulit mengalami pertumbuhan pada produksi sawitnya.

"Kalau nggak naikan produksi ya gak survive," lanjutnya. Jadi setiap pengusaha harus ada inisiatif itu utk pertahankan kinerja masing-masing," tuturnya.

Sementara kinerja ekspor sawit juga diprediksi akan mengalami penurunan. Hal itu disebabkan karena naiknya kebutuhan dalam negeri terutama untuk program B35 hingga 13 juta kilo liter atau setara 9,5 juta ton.

"Saya rasa ekspor akan turun karena kebutuhan domestik naik yang cukup besar. Jatah ekspor akan terkurangi," tutupnya.

Adapun kinerja ekspor sawit di 2022 sebesar 30,803 juta ton. Angka itupun lebih rendah dari tahun 2021 sebesar 33,674 juta ton. Bahkan penurunan itu terjadi selama 4 tahun berturut-turut.

(ada/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT