Seorang petani sawit di Desa Suak Putat, Muaro Jambi, Bejo masih ingat betul rasa getir yang menghantui kebunnya. Beberapa tahun lalu, ia tergiur membeli bibit sawit dengan harga miring dari oknum tak bertanggung jawab. Alih-alih untung, ia justru harus menelan pil pahit.
"Pertama kali beli bibit itu yang abal-abal, jadi kini hasilnya sangat mengecewakan sekali," ujar Bejo dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026).
Cerita Bejo bukan kasus tunggal yang pernah tertipu oleh oknum yang menawarkan bibit sawit dengan harga miring. Pengetahuannya yang minim dan janji hasil panen menggiurkan buat ia terjebak, kini ia menyesal hasil panen yang dijanjikan si penipu tak kunjung datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sumarni Ningsih juga mengalami dilema serupa. Selama bertahun-tahun, ia berkebun hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa memahami dasar agronomi yang benar. Minimnya akses informasi soal bibit unggul, dosis pemupukan, hingga pengendalian hama membuat produktivitas kebun mereka jalan di tempat.
"Saya dulu hanya ikut cara orang-orang sebelumnya. Tidak tahu apakah itu sudah benar atau belum," ujar Sumarni.
Perubahan mulai terasa ketika mereka mengikuti pelatihan Perkasa (Petani Berkualitas dan Sejahtera), inisiatif TAP untuk negeri sebagai sahabat petani dari PT Triputra Agro Persada Tbk. Melalui program ini, produktivitas kebun petani diharapkan meningkat seiring tumbuhnya kesejahteraan secara berkelanjutan.
Selama tiga hari, para petani tidak hanya duduk mendengarkan teori. Sekitar 60% sesi dihabiskan untuk praktik langsung di lapangan, mulai dari mengidentifikasi bibit bersertifikat, cara memupuk yang benar, hingga mempraktikkan teknik panen yang benar.
Bagi sebagian peserta, ini adalah kali pertama mereka memahami bahwa produktivitas sawit sangat ditentukan oleh ketepatan langkah-langkah dasar tersebut. Harapannya petani dapat terbiasa mempraktikkan cara merawat tanaman secara presisi, agar mereka dapat pulang dengan kepercayaan diri yang penuh bahwa mereka bisa menjadi ahli sawit di kebun sendiri.
Hingga akhir 2025, Pelatihan Perkasa yang dimulai sejak akhir 2024 berhasil membantu petani-petani mandiri di 69 desa pada 10 kabupaten di seluruh entitas anak Triputra Agro Persada yaitu Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Bagi para petani, yang berubah bukan hanya teknik bertani, tetapi juga rasa percaya diri.
Pelatihan Perkasa turut didesain secara berkelanjutan, oleh karena itu dilakukan pendampingan secara berkala untuk memastikan para petani benar-benar menerapkan ilmu yang didapat di kebun masing-masing. Pendampingan berkelanjutan ini menjadi kunci agar transformasi cara bertani tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menjadi standar baru bagi produktivitas mereka.
Perusahaan juga turut membuka hotline konsultasi agronomi via WhatsApp di nomor 0811222012210. Tak hanya peserta yang dapat berkonsultasi, siapapun yang tertarik untuk bertanam sawit dengan baik dapat menghubungi kontak tersebut.
Simak juga Video 'Modus Korupsi Manipulasi Ekspor CPO yang Bikin Negara Rugi Rp 14 T':
(rea/ara)










































