Kinerja sektor manufaktur Indonesia mulai terdampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global berada di level 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 pada bulan sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan penurunan itu dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat tumbuh.
"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah," kata Bhatti dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, permintaan ekspor baru juga tercatat mengalami penurunan setelah naik pada Februari 2026. Hal itu memperburuk kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan.
Melemahnya permintaan juga berdampak pada aktivitas produksi dan tenaga kerja. Perusahaan mulai mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025 serta menekan jumlah tenaga kerja meski dalam skala terbatas.
"Bukti menunjukkan bahwa kenaikan harga material dan kelangkaan pasokan menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut," tuturnya.
Dari sisi harga, tekanan inflasi semakin meningkat. Harga input naik ke level tertinggi sejak Maret 2024, sementara harga output mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. Kenaikan itu didorong oleh kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman, yang bahkan menjadi paling terparah sejak Oktober 2021.
Meski demikian, pelaku industri masih menyimpan optimisme terhadap prospek ke depan. Keyakinan bahwa permintaan akan pulih serta harapan tidak adanya eskalasi konflik lebih lanjut menjadi faktor penopang sentimen bisnis, meski tingkat optimisme masih berada di bawah rata-rata jangka panjang.
"Data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan," pungkas Bhatti.
Simak juga Video 'Bahlil Pastikan RI Punya Alternatif Impor Minyak-LPG Selain dari Timur Tengah':
(fdl/fdl)










































