Harga Aluminium Melonjak, Biaya Bikin Mobil-Kaleng Minuman Membengkak

Harga Aluminium Melonjak, Biaya Bikin Mobil-Kaleng Minuman Membengkak

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 06 Mei 2026 09:12 WIB
Kaleng Minuman
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStock
Jakarta -

Harga aluminium terus melonjak seiring ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini membuat biaya produksi berbagai sektor manufaktur mulai dari mobil hingga kaleng bir semakin bengkak dan mencekik perusahaan.

Mengutip CNBC, Rabu (6/5/2026), berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga aluminium tercatat sudah melonjak lebih dari 13% sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Total, harga komoditas ini sudah naik sekitar 19% sepanjang 2026 dan mencapai level tertinggi sejak 2022 lalu.

Analis dari Bernstein, Bob Brackett, memperkirakan kenaikan harga ini didorong oleh penutupan Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman aluminium dari Timur Tengah. Di mana sekitar 7% aluminium dunia berasal dari wilayah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di luar itu, produksi aluminium juga membutuhkan energi dalam jumlah besar, membuat harganya sangat terkait dengan biaya gas alam dan batu bara. Kenaikan biaya bahan bakar ini akibat perang tentu menjadi tekanan harga tersendiri.

ADVERTISEMENT

"Harga aluminium naik seiring dengan biaya input. Ada risiko kenaikan harga yang berdampak positif pada aluminium, bukan hanya karena terganggunya rantai pasokan, tetapi juga karena terganggunya sumber energi," kata Brackett dalam sebuah memo.

Dampak Kenaikan Aluminium Bagi Dunia Usaha

Kepala Bagian Keuangan Ford, Sherry House, mengatakan perang AS lawan Iran telah mengaburkan prospek produsen mobil tersebut untuk keterjangkauan aluminium, komponen kunci dari truk pikap F-150-nya.

Produsen mobil ternama AS itu memperkirakan kenaikan harga komoditas dapat menciptakan hambatan biaya lebih dari US$ 2 miliar atau dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

"Terkait baja dan aluminium, bahkan sebelum situasi di Timur Tengah dimulai, kita sudah melihat kekurangan di industri global," jelasnya.

Kesulitan serupa juga dirasakan oleh perusahaan minuman kaleng, termasuk di antaranya ada produsen bir Molson Coors. Di katakan pada perusahaan ini kenaikan harga aluminium yang dipasok ke wilayah Midwest AS menambah sekitar US$ 30 juta pada biaya pokok penjualan di kuartal pertama dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Padahal perusahaan induk dari produsen Coors Light dan Miller Lite itu telah menggunakan kaleng aluminium yang dapat didaur ulang selama lebih dari enam dekade. Namun mereka memperkirakan inflasi lebih lanjut untuk komoditas tersebut di kuartal ini.

Lihat juga Video: Trump Kenakan Tarif 25 Persen untuk Impor Baja-Aluminium dari Semua Negara

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads