Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meresmikan operasionalisasi pabrik PT HSG Material Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah. Perusahaan manufaktur bahan bangunan dan material konstruksi ini berinvestasi sekitar Rp 710 miliar dan menyerap 400 pekerja.
"Pengembangan KEK Kendal dan masuknya investasi baru diharapkan terus memperkuat ekosistem industri Jawa Tengah melalui peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, diversifikasi kegiatan manufaktur, dan perluasan pasar," ujar Airlangga dalam keterangannya, dikutip Minggu (11/10/2026).
Adapun fasilitas produksinya mencakup tiang pancang pipa prefabrikasi, tiang pancang persegi prefabrikasi, dan beton pracetak. Berdasarkan perencanaan awal perusahaan, fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas penjualan tahunan sebesar 3 juta meter tiang pancang beton prefabrikasi dan 150 ribu meter persegi beton siap pakai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapasitas tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor serta mendukung kebutuhan pembangunan infrastruktur, kawasan industri, dan berbagai proyek konstruksi di Indonesia. Kehadiran PT HSG Material Indonesia di KEK Kendal, yang merupakan bagian dari Fujian Hongsheng Material Technology, menjadi momentum baru atas semakin eratnya kemitraan strategis antara Indonesia dan China.
Investasi ini juga sejalan dengan inisiatif Two Countries, Twin Parks (TCTP) yang merupakan kerja sama pengembangan kawasan industri kembar antara Indonesia dengan China. Inisiatif tersebut diarahkan untuk mendorong realisasi proyek investasi, transfer teknologi, dan integrasi rantai pasok. Melalui kolaborasi ini, pengembangan industri diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat keterhubungan pelaku usaha dan rantai pasok antara kedua pihak.
Dari sisi pasar, fasilitas produksi material konstruksi di Indonesia berpotensi memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menjangkau pasar regional, khususnya Asia Tenggara. Pasar material konstruksi di kawasan tersebut pada 2025 tercatat mencapai US$ 682 juta. Dengan dukungan kapasitas produksi, akses pasar, dan konektivitas industri, pengembangan manufaktur di KEK Kendal berpeluang memperkuat daya saing produk Indonesia serta meningkatkan potensi perolehan devisa ekspor.
"Pemerintah terus mendorong iklim investasi yang kondusif agar komitmen investasi dapat diwujudkan menjadi kegiatan usaha produktif yang memperkuat struktur industri nasional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutur Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto.
Sejak diresmikan pada 14 November 2016, kawasan industri ini dikembangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri yang didukung penyediaan infrastruktur, kemudahan investasi, serta pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan kawasan tersebut terus membuka peluang bagi masuknya investasi baru dan perluasan kegiatan manufaktur di Jawa Tengah.
Status sebagai KEK Kendal sendiri tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2019 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kendal untuk memperkuat posisi kawasan sebagai salah satu instrumen Pemerintah untuk menarik investasi, meningkatkan aktivitas industri, menciptakan lapangan kerja serta mendorong ekspor melalui dukungan fasilitas dan kemudahan sesuai ketentuan KEK.
(acd/acd)









































