Dalam kesempatan tersebut, pihak Korea menawarkan teknologi Intelelligent Transportation System (ITS) pada jalan tol.
Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, TIS merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh instrumen jalan tol. Sistem ini dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan lalu lintas di jalan tol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan sistem ini, pengelola tol bisa memberitahukan kondisi kemacetan kepada pengguna hingga menginformasikan pintu keluar terdekat bila terlanjut terjadi kemacetan.
"Jadi kan me-link-an semua. Karena kita melihat kepadatan lalu lintas, salah satu aspeknya. Nah kepadatan lalu lintas di masing-masing aspeknya sehingga kalau terjadi stuck (macet), kita bisa beritahu penumpang bahwa di sana ada kemacetan dan silakan keluar dari sini. Salah satunya kaya gitu," jelasnya usai pertemuan tersebut di Gedung Utama Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (10/11/2017).
Rencananya, sistem yang dimaksud akan diterapkan pada sedikitnya 3.000 km jalan tol di Indonesia.
"Proyek ini direncanakan akan dilaksanakan sepanjang 3.000 km jalan tol pada tahun 2019," kata Hyun Mee.
Untuk memuluskan rencana tersebut, pihak Korea akan mendatangkan pakar TIS ke Indonesia untuk mendalami proyek ini. Direncanakan pakar tersebut datang pada bulan November mendatang.
"Pada bulan November, kelompok pakar Korea akan mengunjungi lokasi untuk menganalisis dan menyelidiki lokasi untuk menerapkan projek tersebut," jelasnya.
Terkait biaya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa masih akan dibicarakan karena masih menunggu hasil uji kelayakan yang akan dilakukan pihak Korea nantinya.
"Kan kalau expert-nya datang enggak langsung dibuat, tapi dibuat dulu FS-nya (studi kelayakan) dan dari situ nanti kelihatan cost-nya berapa," kata Basuki. (dna/dna)











































