Follow detikFinance
Jumat, 11 Mei 2018 18:15 WIB

Indonesia Kurang Tenaga Ahli Bidang Infrastruktur

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Indonesia masih kekurangan tenaga ahli di bidang infrastruktur. Di sisi lain pembangunan infrastruktur yang digenjot pemerintah membutuhkan banyak tenaga kerja terampil.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin mengungkapkan, setiap pembangunan infrastruktur senilai Rp 1 triliun paling tidak harusnya menyerap 14.000 tenaga kerja, termasuk di dalamnya tenaga ahli dan terampil.

"Idealnya kalau kenaikan setiap 1 triliun maka kita butuh tenaga kerja kurang lebih 14.000 orang. Tapi kenyataanya memang kita masih kurang dan jumlahnya memang kalau diliat angka 400 triliun saja kita butuh kurang lebih 5,6 juta tenaga kerja. Sementara tenaga terampil kurang dari 490.000, tenaga ahli 226.000," kata Syarif dalam diskusi di Hotel Gran Melia Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Kondisi inilah yang menjadi kelemahan Indonesia di dalam pembangunan infrastruktur.

"Kelemahan kita kurang tenaga terampil. Ini hanya bisa diakui dengan sertifikasi. Yang ini harus tenaga kerja yang tersertifikasi. Selain jumlah badan usaha sangat besar, tenaga kerja yang disiapkan masih kurang," terang Syarif.

Menurut dia banyak badan usaha jasa konstruksi di Indonesia tidak didukung dengan tenaga ahli dan terampil.

"Sehingga para pengusaha gagal untuk melaksanakan pekerjaan dengan jumlah alokasi dana yang banyak akibat dari tenaga kerja kita yang kurang," ujarnya

Padahal Indonesia memiliki banyak tenaga-tenaga muda yang potensial. Contohnya kata Syarif, pada 2014 tenaga kerja kita dari Indonesia itu lebih banyak keluar bekerja.

Pada 2015 saat booming infrastruktur kurang lebih 200.000 tenaga kerja Indonesia dari Malaysia itu kembali ke tanah air untuk bekerja di bidang infrastruktur.

"Ini menandakan bahwa tenaga kerja kita sebetulnya banyak sesungguhnya yang terampil di luar, kemudian tidak dapat pekerjaan sehingga lebih suka di luar," tutur Syarif. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed