Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 25 Jun 2018 12:50 WIB

Bisakah LRT Dibangun Dengan Biaya US$ 8 Juta/Km?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Pool Foto: Pool
Jakarta - Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto menyebut biaya pembangunan kereta ringan atau light rail transit (LRT) di Palembang terlalu mahal jika dibanding negara lain. Biaya rata-rata pembangunan LRT di dunia menurutnya hanya sebesar US$ 8 juta.

Lantas, bisakah LRT dibangun dengan biaya US$ 8 juta per tiap kilometernya?

Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi mengatakan, biaya pembangunan LRT dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya tipe konstruksi yang akan mempengaruhi biaya pembangunan yang dibutuhkan.

Satya bilang, secara rata-rata patokan biaya pembangunan jalur LRT secara melayang berkisar Rp 500-550 miliar/km atau sekitar US$ 35,7 juta/km.

"Secara rule of thumb, LRT itu rule of thumb nya ada di sekitar Rp 500-550 miliar/km. Ini untuk elevated," katanya kepada detikFinance saat dihubungi, seperti ditulis Senin (25/6/2018).


Jakpro sendiri mengeluarkan biaya sebesar Rp 5,3 triliun untuk membangun LRT Jakarta sepanjang 5,8 km. Biaya tersebut terdiri dari biaya pembangunan depo untuk seluruh jalur LRT 110 km sebesar Rp 2,6 triliun, dan sisanya sebesar Rp 2,7 triliun untuk pekerjaan jalur sepanjang 5,8 km.

Pekerjaan jalur tersebut juga dibagi lagi menjadi pekerjaaan sipil dan sistem. Dengan jalur yang dibangun melayang, maka pekerjaan sipil jalur LRT Jakarta kata dia membutuhkan biaya sebesar US$ 29 juta/km atau sekitar Rp 406 miliar/km (kurs Rp 14.000), di luar biaya sistem yang sebesar US$ 7,9 juta.

"Biaya sistem itu seperti untuk rel, signaling dan kelistrikan. Jadi kalau ditambahkan, biaya kita ada di bawah angka US$ 40 juta/km," katanya.

Satya bilang, biaya pembangunan LRT Jakarta terlihat mahal lantaran harus membangun depo yang memiliki kapasitas untuk jalur LRT Jakarta secara keseluruhan sepanjang 110 km. Penyusunan biaya LRT Jakarta juga telah dilakukan secara berlapis dengan konsultan internasional dan juga telah ditekan dari perkiraan biaya awal.

"Biaya awal Rp 6,8 triliun itu budget yang dimasukkan saat awal dimulai. Ternyata pada saat tender, angkanya jadi Rp 5,3 triliun dan ditambah pajak dan kontingensi untuk konstruksi jadi Rp 6,4 triliun. Jadi dalam kontrak itu Rp 5,3 triliun," katanya.

Sementara untuk jalur non layang atau di atas tanah, biaya konstruksi jalur LRT di sejumlah negara memang lebih rendah dibanding jalur layang. Di Brazil, ada Rio de Janeiro Light Rail yang beroperasi mulai 2016 lalu.

LRT Rio dibangun sepanjang 28 km dengan biaya sebesar US$ 450 juta atau US$ 16,07 juta/km. Sedangkan di Spanyol, ada Granada Metro yang jalurnya sepanjang 15,9 km dibangun dengan biaya sekitar US$ 584 juta atau sekitar US$ 36,72 juta/km.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed