Mundur, Tol Kunciran-Serpong Baru Bisa Operasi April 2019

Mundur, Tol Kunciran-Serpong Baru Bisa Operasi April 2019

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 20 Jul 2018 17:55 WIB
Mundur, Tol Kunciran-Serpong Baru Bisa Operasi April 2019
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - PT Marga Trans Nusantara (MTN) menargetkan pembangunan proyek Jalan Tol Kunciran-Serpong rampung pada Januari 2019. Dengan begitu, ruas tol yang menjadi bagian dari jaringan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2) ini diharapkan bisa beroperasi pada April 2019.

Presiden Direktur PT Marga Trans Nusantara (MTN) Truly Nawangsasi mengatakan saat ini progres pembangunan ruas tol tersebut telah mencapai 58%. Dia mengatakan bahwa target penyelesaian konstruksi sendiri mundur dari rencana semula.

Awalnya, konstruksi ditargetkan bisa selesai 100% pada November 2018. Namun karena masalah pembebasan lahan, target tersebut molor menjadi awal 2019. Sehingga operasi jalan tol diperkirakan pada April 2019.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembebasan tanah saat ini telah mencapai 96,69%. Kemudian target untuk selesai konstruksi 100% itu Januari 2019 dan diperkirakan bisa beroperasi pada April 2019," katanya di Jakarta, Jumat (20/7/2018).



Untuk pembebasan lahan ruas tol itu sendiri sudah mencapai 96,69% dan ditargetkan selesai 100% pada September 2018. Seiring dengan upaya pembebasan lahan itu, pembangunan konstruksi juga terus dikerjakan secara simultan atau berbarengan.

"Jadi kita harapkan pembebasan lahan bisa diselesaikan bulan Mei-Juni. Tapi karena ada masalah tanah kami harapkan bisa selesai di September. Di situ ada pekerjaan konstruksi 4 bulan. Sehingga kami berhitung di Januari 2019 sudah bisa selesai konstruksi 100%" jelasnya.

Lebih lanjut Truly mengatakan bahwa jaringan tol berfungsi memecah lalu lintas yang saat ini menumpuk di dalam kota Jakarta. Ruas ini bisa menjadi pilihan alternatif untuk pengguna jalan yang biasanya menggunakan JORR 1.

"Jalan tol utamanya bisa menjadi pilihan alternatif dari JORR 1. Sehingga distribusi lebih merata dan jadi cost logistik lebih kompetitif, sehingga produk barang lebih berdaya saing tinggi dan berdampak bagus untuk perekonomian," tuturnya.

(fdl/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads