Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Sep 2018 17:12 WIB

Cerita Warga Kuasai Jalur KA Bandung-Ciwidey yang Lama 'Mati'

Wisma Putra - detikFinance
Foto: Wisma Putra/detikcom
Bandung - Jalur kereta api (KA) Bandung-Ciwidey dibuka sejak 1923. Jalur ini berhenti operasi karena kecelakaan rangkaian kereta api mengangkut kayu di 1972, dan baru resmi ditutup pada 1982.

Sejak saat itu, jalur kereta Bandung-Ciwidey 'dikuasai' warga dengan mendirikan bangunan. Pantauan detikcom Selasa (18/9/2018) di Kampung Babakan Sasak, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang, banyak rumah yang didirikan di atas perlintasan kereta api itu. Dari mulai rumah semi permanen sampai permanen pun kokoh berdiri.



Penampakan rumah di jalur kereta 'mati' Bandung-CiwideyPenampakan rumah di jalur kereta 'mati' Bandung-Ciwidey Foto: Wisma Putra/detikcom

Selain itu, salah satu jembatan kereta api yang ada di kampung tersebut kondisinya sudah tidak terawat dan kini dijadikan sebagai akses jalan warga yang menghubungkan antar kampung. Rel keretanya sudah dibeton dan besi-besi jembatan itu sudah berkarat.

"Kareta na ereun, langsung seeur nu ngadamel bumi (Keretnya berhenti, langsung banyak yang membuat rumah)," kata Amid (73) salah satu warga Kampung Babakan Sasak, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang, Selasa (18/9/2018).


Menurut Amid, pasca tidak dioperasikannya jalur kereta api tersebut, pemerintah pun turut membiarkan sehingga warga leluasa mendirikan bangunan di atas rel kereta api ini.

"Da diantep ku pemerintah janten we seuur nu ngadamel bumi, warga nu di luhur gunung ngalih kadieu (Dibiarkan sama pemerintah juga jadi banyak yang membuat rumah, warga yang tinggal di atas gunung pindah ke sekitaran rel)," terang Amid.

Penampakan bangunan di jalur kereta 'mati' Bandung-CiwideyPenampakan bangunan di jalur kereta 'mati' Bandung-Ciwidey Foto: Wisma Putra/detikcom

Amid berujar, lokasi perlintasan kereta api tersebut sangat strategis untuk didirikan bangunan. Amid pun pindah dari rumahnya yang berada di Kampung Cileutik (desa sama) karena lokasinya jauh dengan jalan raya sekitar 1987.

"Kapungkurmah linggih di Cileutik, masih di Sukajadi. Pindah kadieu da jauh lokasina, di gunung. "Dulu tinggal di Cileutik, masih di Desa Sukajadi. Pindah ke sini lokasinya jauh berada di atas gunung," ujarnya.


Sebelum Amid, sudah banyak waega yang mendirikan bangunan di sepanjang perlintasan rel kereta api itu.

"Wah seuur, jol ngaralih di Ciwidey ka Soreang seeur. (Wah banyak, langsung pindah di Ciwidey ke Soreang banyak yang mendirikan bangunan)," jelasnya.

Penampakan jalur kereta 'mati' Bandung-Ciwidey Penampakan jalur kereta 'mati' Bandung-Ciwidey Foto: Wisma Putra/detikcom

Warga lainnya Yaya (72) berujar, ia pindah dari rumahnya di daerah Sadu ke kampung tersebut 10 tahun yang lalu. Di atas perlintasan kereta api itu ia mendirikan rumah sekaligus warung untuk menafkahi keluarga.

"Waktos di Sadu mah jauh kamana-mana. Tapi ayenamah atos sae teu jiga kapungkur. Pindah teh soalna raos caket kamana-mana, aya ojeg oge. (Waktu tinggal di Sadu jauh kemana-mana. Tapi sekarang sudah bagus tidak seperti dulu. Pindah soalnya enak dekat kemana-mana, ada ojek juga)," pungkasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com