"Pendanaan dan lahan menjadi garansi proyek ini akan selesai," kata Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra saat berkunjung ke markas detikcom di Gedung Trans Media, Jakarta, Selasa (30/10/2018).
Terakhir, pada September 2018 lalu China Development Bank (CDB) telah mencairkan pinjaman untuk proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG) termin II sebesar US$ 274,8 juta atau setara Rp 3,847 triliun. Sebelumnya pihak CDB telah memberikan pinjaman perdana sebesar US$ 170 juta pada akhir April lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami optimistis, kita dikasih waktu 3 tahun kontraktornya. Karena kenapa, kita yang kerja itu kerja pengalaman di China. CRCC (China Railway Construction Corporation) itu kan yang bikin rolling stock-nya di China, kemudian yang terbesar, kemudian sinyalnya," tambah Chandra.
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung memang sempat mengundang keraguan lantaran dalam waktu hampir tiga tahun sejak groundbreaking, proyek ini tak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Bahkan, proyek ini sempat dijadikan alat serang politikus Roy Suryo dengan menyebut proyek ini sebagai proyek bohongan.
Keraguan akan proyek ini kembali menguat setelah Malaysia baru-baru ini membatalkan proyek high-speed rail (HSR) yang awalnya menjadi kebanggaan rezim Najib Razak. Proyek kereta cepat yang menghubungkan Malaysia dengan Singapura itu tak jadi diteruskan lantaran menemui kesulitan pendanaan.
Tonton juga 'Kapsul Berkecepatan 1.220 km/jam Siap Meluncur 2019':
(eds/ang)











































