Laporan dari Tokyo

Menanti 'Taring' MRT Ubah Jakarta Seperti Jepang

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Selasa, 04 Des 2018 06:45 WIB
Menanti Taring MRT Ubah Jakarta Seperti Jepang
Foto: Eduardo Simorangkir

Perusahaan-perusahaan perkeretaapian di Jepang tak bisa hanya mengandalkan pendapatan melalui penjualan tiket kereta. Operator kereta di Jepang harus bisa berinovasi dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya, mulai dari rolling stock hingga stasiun kereta.

Berdasarkan data Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Jepang, operator kereta di kota-kota besar di Jepang mengandalkan pendapatan non tiket untuk meraup untung. Kontribusi bisnis non tiket untuk pendapatan dari operator kereta di Tokyo, Nagoya, Osaka, dan Fukuoka mencapai 68,8% dari total pendapatan.

Operator kereta di Jepang secara pro aktif mengembangkan area komersil seperti pusat perbelanjaan atau mal di stasiun. Hal tersebut dibuktikan oleh detikFinance pada sejumlah stasiun kereta yang ada di Jepang, mulai dari Fukuoka, Greater Tokyo hingga Yokohama.

JR Kyushu, salah satu anak usaha dari perusahaan operator kereta terbesar di Jepang; Japan Railways, membuktikan bahwa tak cukup hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket. Usaha mereka melakukan diversifikasi bisnis non tiket mulai membalikkan keadaan yang lebih baik.

Di tahun 1987, pendapatan dari tiket kereta mencakup 81,8% dari total pendapatan yang membuat JR Kyushu masih menderita kerugian JPY 28,8 miliar. Sementara pendapatan non tiket hanya menyumbangkan kontribusi 18,2%.

Perbedaan mencolok terlihat saat pengembangan bisnis non tiket mulai dilakukan masif. Pada tahun 2017 lalu, pendapatan non tiket menyumbangkan kontribusi tertinggi perusahaan sebesar 63,4% sementara dari tiket menyumbangkan kontribusi 36,6%.

Hal lainnya yang membuat operator kereta di Jepang tak hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket adalah harga tiket kereta yang jarang naik. Pasalnya, harga tiket transportasi umum di Jepang tak ada yang disubsidi oleh pemerintah.

Jika suatu waktu harga tiket naik, maka itu berarti disebabkan adanya peningkatan pajak konsumsi oleh pemerintah Jepang.

"Dulu waktu kami masih jadi Japan National Railway, mereka (pemerintah) sering menaikkan harga tiket. Belajar dari itu, kami berusaha tidak menaikkan harga tiket. Cuma sekali, saat pemerintah Jepang melakukan perubahan pajak konsumsi," kata Director General Manager Sales Departement JR Hakata City, Yusuke Nigo.

Namun, bisnis layanan transportasi harus tetap menjadi bisnis utama perusahaan karena hal tersebut yang bisa mendorong pendapatan di sektor bisnis non tiket. Untuk itu, pelayanan transportasi kereta tetap menjadi perhatian yang paling diutamakan.

"Yang harus dipikirkan bagaimana keuntungannya dengan pengembangan wilayah di daerah stasiun. Saat kita kembangkan stasiun, jangan khawatir nanti ada pembelinya atau tidak. Karena sudah pasti mereka akan datang," ujar Manager Planning Departement Corporate Planning Headquarter Kyushu Railway Company, Makoto Kawano.

Hal yang sama juga akan ditiru oleh PT MRT Jakarta saat akan mengoperasikan kereta MRT Maret 2019 nanti. Beberapa bisnis non tiket yang dilakukan di antaranya mengembangkan ritel di dalam stasiun MRT Jakarta, bisnis periklanan, hak penamaan (naming rights) hingga pengembangan mobile apps untuk menunjang ekonomi digital.

Dengan demikian, peluang bisnis yang ditangkap mulai dari masuk stasiun sampai keluar dari stasiun. Masuk ke dalam stasiun, berbagai bisnis ritel dikembangkan, mulai dari convenience store atau mini market, toko fesyen, makanan dan minuman hingga ATM.

"Harapannya non fare box (non tiket) bisa menjadi revenue (pendapatan) yang menutup dan menghidupi perusahaan. Non fare box harus bisa menjadi biaya tambahan untuk kelangsungan hidup perusahaan," kata Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah.