Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 31 Jan 2019 19:01 WIB

Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Pakai Bor Terowongan Terbesar di RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Dok KCIC Foto: Dok KCIC
Jakarta - Pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung bakal menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM), yaitu alat bor yang didatangkan khusus dari China. Tibanya alat bor terowongan buatan Negeri Tirai Bambu tersebut akan membantu percepatan pelaksanaan konstruksi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

TBM tersebut telah mendarat di lokasi tunnel pertama kereta cepat Jakarta-Bandung yang terletak di Halim Km 3+600, Jakarta. TBM KCJB tersebut berangkat dari Zhanghuabang Wharf, Shanghai China dengan kapal Phoenix Pine ke Tanjung Priok.

Proses administrasi dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Utama, Tanjung Priok mendukung tibanya TBM di lokasi tunnel pertama Halim dengan tepat waktu.


"Kita patut berbangga, TBM yang ada di hadapan kita ini adalah yang terbesar yang pernah ada di Indonesia. TBM ini nantinya mampu membuat terowongan untuk dua jalur kereta cepat," kata Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra dalam keterangan resminya, Kamis (31/1/2019).

"Saya yakin, progress pembangunan yang ditargetkan 60% dapat tercapai. Kami berterima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu kelancaran kedatangan TBM KCJB," tambahnya.


Tunnel boring machine super besar ini berbobot 3.649 ton dengan diameter 13,19 m dan panjang 105 m. Alat bor ini akan beroperasi di daerah Halim dengan menggunakan metode shield tunneling untuk pengerjaan konstruksi terowongan sepanjang 1,88 km yang merupakan bagian dari 22 titik penting pekerjaan konstruksi KCJB.

Pengerjaannya menggunakan metode shield tunneling dikarenakan titik kritis ini berlokasi di Km 3+600. Lokasi tersebut melewati jalan tol Cikampek dan overpass jalan arteri Jatiwaringin yang notabene merupakan titik terpadat mobilisasi warga Jakarta ke daerah Bekasi dan Bandung.

Penggunaan TBM ini diyakini sama sekali tidak akan menghambat lalu lintas tol Jakarta-Cikampek karena tingkat keamanan metode pengerjaan shield tunneling jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode Drill, blasting atau metode lainnya.

Metode ini bekerja seperti cacing bawah tanah dimana pengerjaannya dilakukan tanpa mengganggu aktivitas yang ada di atasnya. Selain itu, TBM juga digunakan pada titik ini karena sesuai dengan aturan Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Halim Perdanakusuma yang mengatur ketinggian bangunan dan kemungkinan mengganggu operasional penerbangan.

Adapun perakitan alat TBM akan memakan waktu sekitar 45 hari dengan target di bulan Maret akan segera dilanjutkan dengan operasi.

"TBM akan bekerja secara signifikan dengan pengeboran selama 24 jam tanpa henti. Optimalisasi pengeboran pada titik ini rata-rata sebesar 8 - 10 meter per hari sehingga diharapkan dapat mempercepat pekerjaan di titik ini," kata Chandra. (eds/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com