Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Feb 2019 20:36 WIB

Anggota DPR Sebut Trans Jawa Tak Turunkan Biaya Logistik

Bayu Ardi Isnanto - detikFinance
Ilustrasi Trans Jawa. Foto: Rifkianto Nugroho Ilustrasi Trans Jawa. Foto: Rifkianto Nugroho
Sragen - Hadirnya jalan Tol Trans Jawa disebut tidak mempengaruhi penurunan biaya logistik. Tarif tol yang dinilai mahal menyebabkan truk-truk besar pengangkut logistik enggan melintas di jalan tol.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Komisi VI DPR RI di rest area Km 519, Sragen, Kamis (14/2/2019). Jalan tol paling banyak dilintasi oleh mobil pribadi hingga truk dan bus kecil yang jumlahnya mencapai 90 persen.

"Seperti di ruas Solo-Ngawi ini truk besar hanya 0,8 persen yang lewat. Dalam hal ini jalan tol belum memberikan suatu nilai tambah terkait dengan logistik," kata ketua rombongan, Martri Agoeng saat kunjungan.

Menurutnya, manfaat lebih dirasakan oleh kendaraan umum seperti bus kecil yang sekarang dikategorikan sebagai golongan I. Adapun tarif golongan I ialah Rp 1.000 per km, golongan II sebesar Rp 1.500 per km dan golongan III ialah Rp 2.000 per km.

"Kalau truk logistik kan tidak membutuhkan kecepatan, jadi tidak masalah kalau tidak lewat tol. Tapi kalau tol murah ya lewat tol. Beda dengan bus yang butuh cepat, jadi banyak yang masuk tol, apalagi mereka masuk golongan I," ujar politisi PKS itu.

Namun dia tidak menampik bahwa tarif tol saat ini masih dalam tataran rasional. Apalagi jika dibandingkan dengan nilai investasi yang besar.


Permasalahan saat ini, menurutnya hanya bersifat psikologis publik. Banyak masyarakat yang membandingkan jalan tol baru ini dengan jalan tol lama, seperti Jagorawi.

"Sebelum ini kan di kota-kota besar yang jalan tolnya sudah lama, seperti di Jagorawi itu Rp 6.500 jaraknya 40 km. Jadi kita merasa sudah murah banget, tapi begitu masuk sini kok terasa mahal," ujarnya.

"Kalau dari sisi investasi, hitungan rasio bisnisnya enggak mahal. Cuman kita masalah psikologis publik yang harus bisa disampaikan bahwa ini enggak mahal," kata dia.

Martri mengaku akan kembali mengkalkulasi tarif jalan tol dengan pihak terkait. Komisi VI akan meminta tarif diturunkan jika memungkinkan.

"Kami harus kalkulasi lagi total investasi nyata di seperti apa variabel apa saja, apakah nanti bisa diturunkan lagi. Atau mungkin tarif di tahun pertama dibuat jangan mahal-mahal dulu biar masyarakat mau masuk. Setelah itu naik jadi Rp 1.000 sudah enggak terasa," pungkasnya.


Selain itu DPR, pengamat ekonomi Faisal Basri juga menilai, infrastruktur tol yang gencar dibangun pemerintahan Presiden Jokowi kurang efektif menekan biaya logistik secara nasional. Menurutnya, ongkos logistik akan turun jika barang-barang diangkut lewat laut.

Sebab itu, transportasi laut seharusnya lebih diperkuat.

"Kenapa mahal karena semua diangkut truk, dan truk semakin kukuh di bangunan Tol Trans Sumatera dan Jawa. Semua lewat truk diangkutnya. Truk itu cuma 10 ton. Jadi ongkos angkut per kg mahal banget," katanya dalam diskusi bertema Pemanasan Debat Capres Kedua: Tawaran INDEF untuk Agenda Strategis Pembangunan SDA dan Infrastruktur di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Faisal melanjutkan, ongkos logistik akan turun dengan kapal laut. Dia bilang, kapal laut bisa membawa muatan yang lebih banyak. Selain itu, bisa menjangkau ke berbagai kepulauan di Indonesia.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com