Tol Trans Sumatera Perlancar Ekspor ke Asia

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Rabu, 06 Mar 2019 19:00 WIB
Foto: Dok KEIN
Jakarta - Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dinilai sangat strategis karena merupakan bagian dari Asian Highway Network. Sehingga diharapkan dapat memperlancar ekspor ke Asia. Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan meskipun tidak layak secara finansial, proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JJTS) mampu menjadi perangsang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Banyak kajian menunjukkan JJTS memiliki nilai ekonomi yang tinggi meskipun IRR [internal rate of return] rendah sehingga ini perlu dibangun, apalagi proyek ini akan tersambung dengan Asian Highway Network," ucapnya dalam Sosialisasi Pembangunan Infrastruktur Jalan Tol Trans Sumatera, yang dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (6/3/2019).

Dia menjelaskan tersambungnya JJTS dengan Asian Highway Network akan meningkatkan konektivitas antarnegara di Asia. Apalagi, negara-negara di Asia Tenggara memiliki visi Asean Connectivity pada 2025 untuk menghubungkan dan mengintegrasikan secara komprehensif negara-negara di kawasan tersebut.


"Dengan begitu, daya saing, inklusivitas, dan rasa kebersamaan sebagai komunitas akan meningkat dengan adanya JJTS ini. Selain itu, kita juga akan diuntungkan karena akan memperlancar ekspor kita ke Asia," jelas Arif.

Tidak hanya akan merangsang ekspor dan konektivitas ke Asia, proyek JJTS juga akan memberikan dampak pada biaya logistik nasional. Seperti yang diketahui Sumatera merupakan kontributor produsen terbesar beberapa komoditas utama Indonesia. Apalagi, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan biaya logistik untuk meningkatkan daya saing dan lebih kompetitif.

"Jadi JJTS ini juga akan memberikan manfaat yang besar bagi biaya logistik di Tanah Air, utamanya Sumatera sehingga bisa memberikan kesejahteraan yang lebih besar lagi," jelas Arif.

Selain mampu memperbaiki biaya logistik, proyek JJTS juga digadang menjadi pemantik bagi pertumbuhan perekonomian Pulau Sumatera. Pasalnya, proyek ini tidak hanya memberikan dampak penambahan infrastruktur jalan melalui jalan tol akan tetapi juga akan merangsang pertumbuhan kawasan industri di sekitarnya.

Setidaknya ada enam kawasan industri yang berpotensi menjadi fokus pengembangan di Sumatera yakni Kawasan Industri Dumai, Kawasan Industri Bengkalis, Kawasan Industri Jambi Kemingking, Kawasan Industri way Pisang, Kawasan Industri Tanggamus, dan Kawasan Industri Tenayan.


"Pengembangan kawasan industri ini ditujukan untuk mendorong multiplier effect dari pengelolaan potensi dan sumber daya setempat serta meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan di Sumatera," papar Arif.

Selain ditujukan untuk menciptakan kawasan industri baru, proyek JJTS diproyeksi memberikan penghasilan dari penambahan fungsi. Dari kajian The Center for Sustainable Infrastructure Development (CSID) Universitas Indonesia, rest area development menjadi penghasilan paling besar sekitar 34,39%.

Kemudian diikuti tourism park development sebesar 32,54%, median railways integration sebesar 19.06%, dry pot integration sebesar 12,38%, motorcycle lane integration sebesar 0,92%, dan fiber optic networking sebesar 0,71%.

"Menimbang dari manfaat-manfaat yang ada bagi masyarakat luas, tidak ada alasan tidak membangun apalagi menunda pembangun JJTS," tutup Arif. (prf/hns)