Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 17 Jun 2019 15:52 WIB

PUPR Tunggu Rekomendasi Polisi Pasang Pita Anti Ngantuk di Cipali

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengaku siap membuat pita kejut atau pita anti ngantuk di ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali).

Hal tersebut menyusul adanya insiden kecelakaan yang banyak memakan korban. Hanya saja untuk merealisasikan hal tersebut, pihak Kementerian PUPR menunggu rekomendasi dari Kepolisian.

"Tergantung rekomendasi polisi, kalau memang harus dibikin pita kejut ya kita bikin," kata Basuki di Komplek Istana, Jakarta, Senin (17/6/2019).


Pita kejut sering juga disebut sebagai pita penggaduh yang memiliki arti kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi lebih meningkatkan kewaspadaan menjelang suatu bahaya.

Diketahui, kecelakaan kembali terjadi di Tol Cipali. Kali ini tak tanggung-tanggung, 12 nyawa melayang sekaligus setelah terjadi kecelakaan beruntun di KM 151 Tol Cipali arah Jakarta.

"Ada 12 yang meninggal kemudian 11 luka berat kemudian 32 yang luka ringan," kata Kapolres Majalengka AKBP Mariyono saat dihubungi, Senin (17/6/2019).

Adapun, detikFinance mencatat, Cipali menjadi salah satu tol terpanjang di Indonesia ini memang kerap terjadi kecelakaan. Pada masa awal pengoperasian atau sejak diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2015 lalu saja, hampir setiap hari terjadi kecelakaan di ruas tol yang panjangnya mencapai 116,75 km tersebut.

Tol Cipali merupakan bagian dari jaringan Tol Trans Jawa yang dioperasikan oleh PT Lintas Marga Sedaya (LMS). Tol ini mulai dioperasikan sejak Juni 2015.


LMS sendiri merupakan perusahaan patungan dengan kepemilikan perusahaan Malaysia, Plus Expressways Berhard 55% dan PT Bashkara Utama Sedaya (BUS) sebanyak 45%. Sementara, BUS merupakan konsorsium terdiri dari PT Interra Indo Resources, PT Bukaka Teknik Utama, dan PT Baskhara Lokabuana. Interra Indo Resources merupakan anak usaha PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Tol ini dibangun dengan biaya mencapai Rp 13,7 triliun. Dengan konsesi yang didapat selama 35 tahun dan dimulai sejak 2006, tol ini akan habis masa pengelolaannya pada 2041 mendatang.

Sejak dibuka, tol Cipali memang memegang catatan buruk dalam kecelakaan. Tol yang memotong jalur lebih cepat dari Jakarta menuju ke Cirebon ini mempunyai kontur jalan yang cenderung lurus dan panjang sehingga bisa membuat pengemudi bosan dan mengantuk. (hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed