Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Jun 2019 17:19 WIB

Tere Liye Sindir Bandara Kertajati Sepi, Ini Kata Direksi

Puti Aini Yasmin - detikFinance
BIJB/Foto: Rachman Haryanto BIJB/Foto: Rachman Haryanto
Majalengka - Penulis Buku Tere Liye menyindir pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. Ia menilai pembangunan tersebut merupakan proyek ambisius yang sia-sia.

Hal itu ia sampaikan dalam postingan di laman Facebooknya. Tere mengungkapkan Bandara Kertajati yang memiliki standar internasional tersebut dibangun jauh dari pusat kota besar, yakni Bandung.

Akibatnya, bandara tersebut terlihat sia-sia karena hanya sedikit penumpang yang mau menggunakan dari Kertajati. Padahal, kata Tere, ia telah mengingatkan bahwa pembangunan bandara seharusnya dalam skala kecil-menengah dan bukan skala internasional.

"Saya sudah menulis soal ini sejak dulu kala, sampai capek mengingatkan pejabat-pejabat ini. Silakan kalian bikin bandara baru di sana, tapi please, cukup bandara kelas kecil-menengah, untuk keperluan penduduk Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan sekitarnya," jelas dia seperti dikutip detikFinance, Selasa (18/6/2019).

"Kertajati akhirnya diresmikan. Itu bandara megah, besar, hebat sekali. Tapi apa yang terjadi? Sepi. Kok bisa? Tentu saja bisa. Bagaimana mungkin, sebuah bandara diletakkan dengan jarak seratus kilometer lebih dari kota besar terdekat," sambung dia.


Kemudian, Tere menilai kebijakan pemerintah dengan memindahkan sebagian penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung ke Kertajati sebagai hal yang merugikan, khususnya untuk masyarakat bandung.

Bagaimana tidak, perhitungan ongkos dari Bandung ke Kertajati baik dengan menggunakan bus atau taksi memakan biaya hingga miliaran rupiah per tahunnya.

Belum lagi, waktu tempuh yang masih lama, yakni sekitar tiga jam membuat semua aspek pembangunan bandara terkesan tidak efektif dan boros.

"Taksi Bandung-Kertajati itu bisa Rp 300.000 sekali jalan. Hitung sendiri Rp 2 juta (penduduk Bandung yang dipindahkan penerbangannya) x Rp 300.000, itu artinya Rp 600 miliar setiap tahun. Fine, mereka disuruh naik bus saja, ongkos bus ke sana katakan lah Rp 50.000, itu tetap saja Rp 100 miliar setiap tahun," jelasnya.

"Sekarang mari kita hitung waktu. Berapa lama Bandung-Kertajati? 3 jam. Maka jika 2 juta orang ini disuruh pergi ke Kertajati, maka setiap tahun, ada 6 juta jam terbuang sia-sia. Itu mungkin setara waktu untuk bikin 6 candi Borobudur. BBM boros, semua boros, waktu terbuang percuma. Sama sekali tidak efisien dan efektif. Nggak lucu, penerbangannya hanya 1 jam, eh ke bandaranya 3 jam," papar dia.

Padahal, kata Tere, pembangunan infrastruktur seharusnya memudahkan masyarakat. Namun berbeda dengan Bandara Kertajati yang dinilai menyulitkan masyarakat Bandung.


Ia juga menyoroti rencana penutupan Bandara Husein Sastranegara karena dikelola oleh TNI AU sehingga penerbangan mesti dipindahkan ke Kertajati tidak masuk akal. Pasalnya, saat ini Husein sendiri dinilai masih memiliki kapasitas serta landasan yang layak.

Apalagi alasan mengenai penggunaan bandara yang tak boleh digunakan oleh masyarakat sipil.

"Justru pertanyaannya adalah: apa sih manfaatnya jika Husein ditutup, penerbangan dipindah ke Kertajati? Hanya untuk bikin Kertajati ramai gitu doang? Duh, hidup kalian penuh pencitraan saja. Lebih geli lagi ada yang bilang, Oh, Husein itu punya AURI, jadi tidak boleh untuk sipil. Dasar sok tahu, coba situ lihat Juanda Surabaya, punya siapa? Ahmad Yani Semarang? Punya siapa? Kalau Husein ditutup gara-gara AURI, maka kenapa Juanda Surabaya tidak ditutup?," tutur Tere Liye.

Ia pun menyarankan agar Bandara Husein tak ditutup dan membiarkan masyarakat yang menentukan pilihan. Sebab, pada dasarnya kedua bandara masih memiliki potensi di masa depan.

Malahan, ia meminta agar pemerintah lebih memikirkan harga tiket pesawat yang tinggi dibanding membuat kebijakan memindahkan penerbangan dari Husein ke Kertajati.

"Nah, kalau kalian masih mau mendengarkan saran, simpel sekali: biarkan saja pasar bekerja. Tidak usah panik lihat Kertajati itu sepi, besok-besok semoga ramai. Biarkan pasar, supply dan demand bekerja secara alamiah. Bandung tetap buka seperti biasanya, Kertajati juga tetap buka. Toh, dua-duanya memang dibutuhkan di masa depan. Tidak usah panik bikin kebijakan ini itu. Sambil menunggu, lebih baik kalian urus itu harga tiket pesawat yang mahalnya minta ampun," tuturnya.


Merespons hal itu, Direktur Keuangan dan Umum BIJB Muhammad Singgih mengatakan bahwa saat ini Bandara Kertajati masih dalam tahap pembangunan. Maka dari itu, belum terlihat betul banyaknya manfaat dari
penggunaan bandara.

"Ini kan penataan ya, kalau penataan ini masalah kemaslahatan secara keseluruhan untuk sementara sesuatu yang butuh proses," kata dia kepada detikFinance.

Pasalnya, kata Singgih, setelah ini akan ada infrastruktur yang menghubungkan antara Bandung dengan Kertajati. Sehingga dua daerah tersebut dapat terhubung dan saling menghidupkan.

"Nanti kan ada tol dan lain sebagainya. Kalau kita tak pernah memulai terus sampai kapan? Ini jelas bisa membangkitkan ekonomi sekitar," jelas dia.

Sementara itu, ia juga mengungkapkan perpindahan beberapa rute penerbangan dari Bandung ke Kertajati tak akan mematikan bisnis Bandara Husein. Sebab, masih ada beberapa rute yang masih beroperasi saat ini.

"Dan ini nggak matiin Husein karena propeller juga masih banyak," tutup dia.




Tere Liye Sindir Bandara Kertajati Sepi, Ini Kata Direksi
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com