Jepang Garap Kereta Kencang JKT-SBY, Luhut: China Mau Masuk Juga

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 02 Sep 2019 17:36 WIB
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Perusahaan konstruksi kereta dari China, China Railways Construction Corporation (CRCC) mengincar proyek kereta kencang Jakarta-Surabaya (JKT-SBY). Proyek ini sendiri sudah dikaitkan dengan investasi Jepang sejak awal.

Minat ini disampaikan CRCC saat menemui Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengatakan kalau memang teknologi dari China lebih baik kenapa tidak.

"Dia pengin investasi di bidang kereta api Jakarta-Surabaya, dia mau masuk juga. Tapi Jepang kan sudah ada, ya kalau dia klaim teknologi maju kenapa nggak, Jepang juga sudah maju sih," kata Luhut di kantornya, Senin (2/9/2019).


Meski begitu, hingga kini pemerintah sudah kuat berkomitmen dengan pihak Jepang soal pengembangan kereta kencang Jakarta-Surabaya. Namun, minat China diterjemahkan Luhut sebagai peringatan untuk pihak Jepang agar tidak main-main dengan proyek kereta kencang ini, kalau tidak bisa berpindah ke tangan China.

"Iya Jepang, sampai sekarang kita masih sama Jepang. Tapi ya Jepang biar tahu, masih ada yang tawar biar dia nggak macem-macem sama kita," ucap Luhut.

Soal berapa banyak investasi yang mau dikucurkan, Luhut tidak menjawab, katanya pihak CRCC belum membicarakan hal tersebut. Yang pasti kata Luhut, memang sudah lama China berminat menggarap kereta kencang di Indonesia.

"Belum bicara tadi ya, dari dulu emang mau (garap Jakarta-Surabaya) dia," ujar Luhut.


Hingga kini, memang belum ada komitmen resmi hitam di atas putih antara Indonesia dengan Jepang soal kereta kencang Jakarta Surabaya. Pihak Jepang sendiri baru melakukan studi kelayakan soal proyek ini.

Rencananya, soal pendanaan, Indonesia akan menerima kucuran dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA), namun untuk nilai investasinya pun masih belum ditentukan.

Pemerintah memperkirakan pembangunan Kereta Kencang JKT-SBY membutuhkan dana Rp 60 triliun. Sementara pihak Jepang memperkirakan sekitar Rp 90 triliun.

Simak Video "Banjir DKI Per Minggu Pagi: 129 RT Tergenang, 1.333 Warga Mengungsi"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)