Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 07 Okt 2019 13:00 WIB

Riwayat Stasiun Gambir: Dari Tanah Rawa Sekarang Mau 'Pensiun'

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Stasiun Gambir Hari Ini (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut, Stasiun Gambir hanya akan melayani KRL atau commuter line Jabodetabek dan kereta khusus saja pada 2021. Hingga kini, stasiun ini sendiri hanya diperuntukan untuk kereta kelas eksekutif antar kota.

Menarik untuk melihat sejarah panjang stasiun yang berada di jantung Jakarta ini. Lantas apa kisah unik dibaliknya?

Ternyata, Stasiun Gambir ini awalnya cuma tanah rawa, merujuk ke sejarahnya yang dikutip detikcom dari berbagai sumber, Senin (7/10/2019) awalnya daerah Gambir adalah tanah rawa dengan pemilik tanah tersebut bernama Anthony Paviljoen.


Kemudian tahun 1697 tanah itu dibeli oleh Cornelis Chastelein, setelah membelinya dia membangun sebuah rumah dengan dilengkapi dua kincir sebagai penggiling tebu. Cornelis memberi nama tempat ini dengan sebutan Weltevreden, yang kalau diartikan artinya sangat puas.

Kemudian, di tahun 1871 Weltevreden diubah menjadi sebuah halte Koningspelin atau berarti halte lapangan raja. Hal ini dikelola sampai tahun 1884 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan bangunan kecil dan sangat sederhana.

Halte ini kemudian diubah lagi jadi stasiun Weltevreden, dan dibuka pada 4 Oktober 1884 di tempat Stasiun Gambir sekarang berada. Dari sini lah awal cerita kawasan Gambir menjadi salah satu perlintasan kereta, sejak saat itu hingga tahun 1906, stasiun ini digunakan untuk pemberangkatan tujuan Bandung dan Surabaya.

Desain bangunan stasiun ini atapnya dulu bertumpu pada bantalan besi cor dengan rancangan Staatsspoorwegen (SS). Lalu, tahun 1928 setelah, stasiun kemudian diperbesar dan satu tahun kemudian mengalami perubahan yang cukup signifikan dimana tampak luar bergaya art deco. Atap untuk penumpang di peron juga diperpanjang ke sisi utara hingga 55 meter.

Masuk tahun 1937, stasiun ini kemudian diresmikan sebagai stasiun Batavia Koningsplein. Hingga akhirnya 55 tahun kemudian tepatnya tahun 1992, stasiun direnovasi secara besar-besaran menjadi stasiun layang dan berubah nama menjadi stasiun Gambir. Sejak saat itu, stasiun ini difungsikan menjadi ruas jalur kereta Jakarta Kota-Manggarai.

Stasiun Gambir sendiri saat ini berada di ketinggian 16 meter dan masuk dalam Daerah Operasional (DaOp) Perkerataapian Wilayah I Jakarta. Di sana ada empat jalur, jalur 2 dan 3 adalah sepur lurus.

Saat ini stasiun gambir memiliki tiga tingkat, di tingkat pertama ada aula utama, loket, tempat makan dan toko serta layanan perbankan ada di tingkat dasar. Naik ke lantai dua ada ruang tunggu dan beberapa tempat makan cepat saji. Lalu di lantai paling atas difungsikan sebagai peron dan jalur lintasan kereta.

Kini, Gambir juga dilengkapi dengan Rail Transit Suite, yakni hotel transit khusus untuk penumpang kereta yang hendak beristirahat. Dari segi pelayanan, status Stasiun Gambir yang berada tepat di jantung Ibu Kota memang terasa eksklusif.


Stasiun ini tak melayani pemberhentian KRL Komuter Jabodetabek, melainkan dikenal khusus melayani keberangkatan dan kedatangan KA kelas Eksekutif tujuan luar kota.

Kabar terakhir, Kasubag Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Supandi mengatakan hal itu menyusul rencana Pemerintah menjadikan Stasiun Manggarai menjadi sentral atau hub di DKI Jakarta.

"Jika sudah selesai semua pembangunan Stasiun Manggarai, KA jarak jauh yang selama ini berhenti di Gambir akan berhenti di Manggarai. Gambir tetap operasi untuk CL (commuter line)," kata Supandi saat dihubungi detikcom.

Simak Video "Alasan Kemenhub Pensiunkan Stasuin Gambir"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com