Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 23 Okt 2019 10:45 WIB

Ini Capaian Ditjen Perhubungan Udara Lewat Konsep Indonesia Sentris

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Foto: Ristu Hanafi/detikcom Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti menyampaikan selama periode 2015-2016, telah membangun dan mengembangkan konektivitas transportasi udara dengan mengusung konsep 'Indonesia Sentris'. Hal ini difokuskan pada pembangunan dan pengembangan bandar udara di wilayah 3T (terluar, terpencil dan terisolir).

Ditjen Perhubungan Udara telah membangun dan mengoperasikan 10 bandar udara baru, dari target 15 bandar udara yang tercakup dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2015-2019. Sedangkan 5 bandar udara baru yang ditargetkan, 3 bandar udara masih dalam penyelesaian pembangunan dan 2 bandar udara menunggu proses peresmian.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mendapatkan hasil yang cukup baik pada audit yang dilakukan oleh ICAO, yakni sebesar 80,34% dari rata-rata dunia 65%. Selain itu telah dicabutnya EU Ban, hingga maskapai Indonesia dapat terbang di seluruh Eropa," tutur Polana dalam keterangan tertulis, Rabu (23/10/2019).


Peningkatan dan pengembangan bandar udara juga menjadi capaian Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Tercatat, hingga 2019, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah melakukan peningkatan dan pengembangan bandar udara di 127 lokasi bandar udara perbatasan, 290 lokasi bandar udara rawan bencana, serta 242 lokasi bandar udara wilayah terisolasi.

Hingga 2019, angka pertumbuhan penumpang dengan rata-rata pertumbuhan 8,50 % dan rata rata pertumbuhan kargo 6,80% per tahun selama 5 tahun. Hal ini juga diiringi oleh peningkatan pelayanan penumpang dengan indikator on time performance operator penerbangan Indonesia dengan rata-rata 80,23% pada 2014-2019 yang terus dipertahankan di atas 80%.

"Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan Perpres No 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), yang menjelaskan bahwa Kementerian Perhubungan, melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, akan melakukan upaya mitigasi penurunan GRK dengan target pencapaian yang terus meningkat setiap tahun," tambahnya.

Selain pencapaian terkait keselamatan, pelayanan dan pembangunan infrastruktur dapat disampaikan juga bahwa sektor transportasi udara telah memperoleh beberapa penghargaan dalam bentuk apresiasi internasional pada 7 bandar udara di Indonesia dengan kategori 'telah memberikan pengalaman pelanggan terbaik' oleh Airport Council internasional.

Bandara-bandara itu antara lain Bandar Udara Sultan Aji muhammad Sulaiman-Balikpapan, Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II-Pekan Baru, Bandar Udara Sultah Thaha-Jambi, Bandar Udara Silangit-Siborong-Borong, Bandar udara Depati Amir-Pangkal Pinang, Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah-Tanjung Pinang, dan Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II-Palembang, dan masih banyak lagi penghargaan yang diperoleh oleh Operator Penerbangan Indonesia yang bertaraf internasional.

Polana menambahkan, untuk mendukung penurunan disparitas harga barang kebutuhan masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum dilayani oleh moda transportasi lainnya, maka Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah membuat program jembatan udara yang merupakan angkutan udara perintis kargo.


"Hasilnya sangat menggembirakan, bahwa jembatan udara ini dapat menekan 44.85 % penurunan harga rata-rata untuk lima bahan kebutuhan pokok. Dan penurunan tersebut tercatat sejak program ini diluncurkan pada Desember 2017 lalu," katanya.

Menurutnya, hingga 2019, terdapat 39 rute penerbangan untuk jembatan udara dan 6 bandara penghubung, antara lain Bandara Juwata-Tarakan, Bandara Andi Djemma-Masamba, Bandara Wamena-Jayawijaya, Bandara Mozes Kilangin-Timika, Nop Goliat-Dekai dan Tanah Merah-Boven Digoel. (akn/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com