Anies Singgung Kesalahan Proyek Masa Lalu, Sindir Ahok?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 17 Feb 2020 16:09 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri penandatanganan kontrak untuk melanjutkan pembangunan proyek jalur MRT dari Bundaran HI menuju Harmoni.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan bahwa pembangunan transportasi di DKI Jakarta akan saling terintegrasi. Integrasi moda mulai dari MRT, buss rapid transit (BRT) alias Transjakarta, hingga kereta ringan lintas rel terpadu (LRT) dilakukan agar masyarakat gampang jika ingin bepergian menggunakan transportasi umum.

Anies tidak ingin ada pembangunan yang tidak saling terintegrasi dengan pembangunan lainnya. Dia mencontohkan pembangunan jalur Transjakarta koridor 13 yang tak terintegrasi dengan jalur MRT Lebak Bulus-Bundaran HI.

Padahal kedua moda tersebut seharusnya bisa saling terintegrasi mengingat keduanya merupakan proyek milik Pemprov DKI Jakarta.

"Dengan begitu kita nanti tidak menemukan ada lagi masalah seperti yang pada bulan lalu kita sempat lakukan groundbreaking-nya, mengintegrasikan antara koridor 13 Transjakarta dengan stasiun MRT ASEAN fase 1 kemarin," kata Anies, saat hadiri penandatanganan kontrak kerja paket MRT CP 201 di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2020).

Anies memang sudah berkali-kali menyinggung soal MRT dan Transjakarta koridor 13 yang tidak terintegrasi. Bahkan dia pernah menyebut dua moda yang tidak terintegrasi ini merupakan salah satu contoh perencanaan transportasi yang buruk.

"Saya berhenti di Stasiun ASEAN. Di sana ada persimpangan antara TransJakarta dengan MRT. Saya selalu menggarisbawahi soal integrasi dan persimpangan itu adalah contoh sempurna perencanaan tanpa integrasi," kata Anies di Halte MRT Bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Selatan, Senin (1/4/2019).

Transjakarta koridor 13 sendiri digagas pembangunannya oleh mantan Gubernur DKI Jakarta sebelum Anies, yaitu Basuki Tjahja Purnama (BTP). Pria yang akrab dipanggil Ahok ini menginisiasi pembangunan jalur layang khusus bus tersebut dimulai pada 10 Maret 2015.

Dari catatan detikcom, pembangunan jalan layang sepanjang 9,3 kilometer (km) yang menghubungkan Ciledug-Tendean ini menghabiskan dana Rp 2,5 triliun. Beberapa kontraktor memenangkan lelang dan mengerjakan titik-titik yang berbeda.

Kontraktor itu, di antaranya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang mengerjakan paket Tendean sepanjang 1.105 meter, paket Santa oleh PT Yasa Patria Perkasa sepanjang 1.059 meter, dan paket Trunojoyo oleh PT Anugerah Kridapradana dengan panjang jalan 1.206 meter.

Busway layang yang merupakan koridor 13 ini pun dibuka untuk masyarakat mulai 13 Agustus 2017. Pengoperasian ini sekaligus sebagai bentuk uji penumpang. Busway layang baru benar-benar diresmikan pada 16 Agustus 2017.

Pembangunan MRT sendiri dimulai saat Presiden Joko Widodo masih menjadi Gubernur DKI Jakarta dan didampingi Ahok sebagai wakilnya. Konstruksinya dimulai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking dilakukan pada Oktober 2013.

Saat itu proyek MRT masuk sebagai salah satu proyek strategis nasional yang menjadi prioritas pengerjannya. MRT akhirnya beroperasi pada Maret 2019.



Simak Video "Berikut 8 Tokoh Pemimpin Alternatif Versi Survei KedaiKOPI"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)