Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 08 Mar 2020 10:10 WIB

Ragam Kontroversi Proyek Kereta Cepat JKT-BDG yang Disetop

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Pembangunan proyek Kreta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) terus berlanjut. Dari informasi yang dihimpun, konstruksi kereta cepat Jakarta-Bandung sudah mencapai 44% pembangunan fisiknya. Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Hambatan yang dihadapi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung seolah tak ada habisnya. Sejak dimulai pada awal 2016 lalu, mega proyek prestisius ini terus menuai kontroversi.

Yang paling baru, proyek yang menelan biaya Rp 80 triliun itu disetop oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selama dua minggu ke depan. Proyek ini dihentikan sementara waktu karena akan dievaluasi terkait dugaan penyebab banjir.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga sempat ramai dibicarakan setelah disebut proyek bohongan alias kecebong (kereta cepat bohongan) oleh politikus Partai Demokrat, Roy Suryo. Disebut 'kecebong', lantaran proyek ini tak menunjukkan progres signifikan setelah hampir dua tahun groundbreaking.

Dirangkum detikcom, berikut berbagai kontroversi yang mewarnai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung:

1. Kontroversi China Jadi Pemenang Proyek

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung telah lama diinisiasi pembangunannya. Proyek ini awalnya dipelajari pembangunannya oleh Jepang, namun pada akhirnya berakhir di tangan China.

Terpilihnya China sebagai pemenang proyek sempat disindir oleh Komikus Jepang, Onan Hiroshi di media sosial. Dalam komik tersebut digambarkan bahwa China yang memberikan penawaran lebih murah berhasil menyingkirkan Jepang meski data studi kelayakan terkait pembangunan proyek tersebut lebih dulu dilakukan oleh negeri Sakura.

Studi saat itu dilakukan untuk membangun kereta semi cepat Jakarta-Surabaya, dengan jarak sepanjang 748 km. Nantinya, kereta diproyeksi bisa menempuh jarak tersebut dalam waktu 5,5 jam dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer.

Dana untuk melakukan studi tersebut ditalangi oleh JICA. Proses studi kelayakan pun dimulai pada awal 2014. Besaran dana pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya pun diperkirakan mencapai Rp 100 triliun.

Setelah melalui berbagai pertimbangan baik ekonomi maupun politik, akhirnya pemerintah memutuskan untuk membangun kereta cepat secara bertahap. Pemerintah memutuskan untuk membangun dengan rute Jakarta-Bandung terlebih dahulu sepanjang 150 km yang nilai awal proyeknya senilai Rp 67 triliun.

Pemerintah pun membuka lelang terbuka bagi negara-negara yang tertarik proyek itu. Masuklah China sebagai tandingan Jepang yang sudah menyatakan minatnya terlebih dahulu.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Proyek Kereta Cepat Disetop, Tapi di Tegalluar Masih Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com