Dirut KAI Beberkan Kondisi Pembangunan Perkeretaapian RI Saat Ini

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2020 19:20 WIB
Kereta Api
Foto: Dok. PT KAI
Jakarta -

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo bicara banyak soal perjalanan panjang perkeretaapian mulai dari era mempertahankan kemerdekaan hingga masa pembangunan saat ini telah menunjukkan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia. Kata dia, setelah 75 tahun merdeka, moda kereta api masih menjadi tulang punggung transportasi, baik itu angkutan penumpang maupun angkutan barang.

"Berderet inovasi dan kemajuan menjadi sebagian dari kontribusi nyata kereta api untuk turut mewujudkan konektivitas yang dapat menghubungkan negeri demi pembangunan yang lebih merata," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2020).

Didiek mengatakan hampir satu dekade ini kereta api terus bertransformasi dan dari tahun ke tahun menghadirkan pembaruan di aspek transportasi Indonesia. Tak hanya berhasil memoles wajah transportasi Indonesia menjadi lebih modern, tapi bisa menghubungkan lebih banyak tempat.

"Kereta api memiliki nilai unggul yang bisa dimaksimalkan dalam aspek transportasi massal, antara lain kapasitas angkut yang besar, jadwal perjalanan yang lebih terprediksi, melaju di jalur sendiri dengan sistem operasi yang terus dipantau, dan tentunya safety first," ujar Didiek.

"Oleh pemerintah, nilai unggul inilah yang secara bertahap ingin dihadirkan di berbagai wilayah di Indonesia dan KAI turut mendukung penugasan demi manfaat bagi masyarakat tersebut," imbuhnya.

Kata Didiek, dalam satu dekade terakhir, integrasi antarmoda sudah menjadi cikal bakal konektivitas negeri. Sebut saja KA Bandara Kualanamu, KA Bandara Soekarno-Hatta, LRT Palembang, KA Bandara Internasional Minangkabau, KA Bandara Internasional Kulonprogo, dan KA Bandara Adisumarmo, serta LRT Jabodebek yang saat ini tengah digarap. LRT Palembang bahkan merupakan salah satu moda transportasi berbasis rel dengan teknologi yang baru pertama kali hadir di Indonesia.

Selain itu, beberapa proyek reaktivasi untuk menghidupkan kembali jalur-jalur yang sudah mati pun tengah digarap, salah satunya jalur Cibatu-Garut. Ini untuk bisa menghubungkan kembali daerah-daerah yang dulunya sudah merasakan manfaat sistem transportasi KA agar kembali bisa dimaksimalkan untuk pengembangan daerah-daerah di sekitar jalur tersebut.

Dijelaskan Didiek, seiring dengan perkembangan zaman, KAI mendukung akselerasi kemajuan transportasi, salah satunya di aspek layanan angkutan penumpang yang lebih tertata, efektif, dan modern. Dalam hal ini, KAI bersinergi dengan sesama BUMN, pemerintah daerah, maupun swasta untuk mewujudkannya. Misalnya dalam pengerjaan proyek LRT Jabodebek, pembangunan stasiun terpadu, dan sebagainya.

"Misalnya saja Stasiun Pasar Senen yang pada Rabu, 17 Juni 2020 telah diresmikan menjadi Stasiun Terpadu. Kondisi Stasiun Pasar Senen kian rapi dan tertata setelah KAI bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Mass Rapid Transit Jakarta (Perseroda) berkolaborasi dalam melakukan penataan kawasan stasiun kereta api di DKI Jakarta. Kerja sama ini akan mengelola dan menata 72 stasiun, termasuk kereta api bandara, dan kereta commuterline," ujar DIdiek.

Didiek juga membeberkan baru-baru ini, KAI dan PT Jaya Real Property Tbk tengah berkolaborasi melakukan penataan dan pengembangan di Stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Kerja sama ini bertujuan untuk memberikan peningkatan pelayanan dan keselamatan pengguna KRL di Stasiun Pondok Ranji.

"Groundbreaking New Image dan Peningkatan Aksesibilitas Stasiun Pondok Ranji telah dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2020 di Stasiun Pondok Ranji. Penataan ini diharapkan membuat masyarakat semakin mudah dalam menjangkau dan menggunakan angkutan umum massal dengan tarif terjangkau, tak terkecuali KRL yang sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat," tutur Didiek.

Selain itu, kata Didiek, KAI juga tengah mengerjakan pengembangan angkutan massal perkotaan. KAI bekerja sama dengan beberapa mitra strategis akan memperkenalkan teknologi sarana perkeretaapian modern yang berpotensi untuk dioperasikan di Indonesia.

"Saat ini KAI bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah sedang melakukan perencanaan dan pembahasan pengembangan angkutan massal perkotaan berbasis rel di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Autonomous Rail Rapid Transit (ART)," ucap Didiek.

Dijelaskannya, langkah awal dari pengembangan itu diwujudkan dengan terjalinnya kesepakatan antara KAI dengan CRRC Zhuzhou China untuk bekerja sama mengembangkan pengoperasian Trem ART di Indonesia.

Kerja sama tersebut diresmikan melalui penandatanganan MoU antara KAI dengan CRRC TEC pada 18 Mei 2018. Sedangkan pada 9 Maret 2020 lalu, kajian legal ART yang dilakukan oleh Pustral UGM telah selesai dilakukan dan hasilnya telah dipresentasikan kepada DJKA, Kemenhub pada 7 Mei 2020.

ART merupakan salah satu teknologi sarana kereta yang baru dikenalkan dan diuji coba oleh CRRC Zhuzhou China pada 8 Mei 2018. Kemudian pada 18 Mei 2018, Direksi KAI berkesempatan menjajal ART yang lebih mirip seperti tram namun menggunakan roda karet dan digerakkan dengan tenaga listrik.

"Di Indonesia, KAI adalah perusahaan BUMN pertama yang memprakarsai hadirnya jenis moda transportasi baru ini dengan tujuan menghadirkan alternatif moda transportasi massal yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan, terutama di kota-kota besar," ujar Didiek.

"Sistem ART inilah yang sedang dipertimbangkan untuk dihadirkan di salah satu sentra wisata Indonesia, yakni Bali. KAI sudah menjalin dialog dengan dengan Pemerintah Provinsi Bali di mana Pemprov Bali berencana untuk membangun perkeretaapian dari Bandara Internasional Ngurah Rai dengan sejumlah destinasi wisata di daerah Sanur," sambungnya.

Kata Didiek, KAI dengan Pemprov Bali tengah mendiskusikan moda transportasi kereta api apa yang nanti akan layak dioperasikan. Termasuk mempertimbangkan ART yang secara investasi dinilai lebih murah dan lebih cepat dalam proses pembangunannya.

"Kereta api terus berupaya untuk menjadi solusi bagi ekosistem transportasi yang dapat mendorong kemajuan konektivitas negeri dan perekonomian bangsa. Tentu asa untuk mengkoneksikan negeri dengan jaringan yang lebih luas lagi membutuhkan sinergi dan kerja cerdas dari seluruh pihak, terutama dukungan dari masyarakat Indonesia," pungkas Didiek.

(prf/hns)