Ini yang Dilakukan Jika Proyek Tol Jogja-Solo Lewati Situs Purbakala

Achmad Syauqi - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 17:25 WIB
Yoni di Desa Keprabon kecamatan Polanharjo.
Foto: Achmad Syauqi/detikcom: Yoni di Desa Keprabon kecamatan Polanharjo.
Klaten -

Proyek Jalan Tol Yogyakarta-Solo di wilayah Kabupaten Klaten akan memberlakukan rekayasa teknis jika melintasi situs cagar budaya. Rekayasa teknis tersebut masih dibahas dengan balai pelestarian cagar budaya (BPCB) Jateng.

"Ini masih dalam proses pembahasan. Pembahasan dilakukan antara BPCB dan konsultan perencana jalan tol," ungkap staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan Tol Jogyakarta-Solo, Kristian saat dihubungi detikcom di ponselnya, Kamis (15/10/2020) siang.

Kristian menjelaskan situs cagar budaya perlu penanganan khusus, terutama rekayasa konstruksinya. Apalagi ada dua situs cagar budaya di Klaten.

Pamong budaya madya BPCB Jateng, Deny Wahju Hidajat mengatakan BPCB sudah berkoordinasi dengan pelaksanaan konstruksi akan ada rekayasa teknis nantinya di lokasi situs.

"Jadi PT dan BPCB minggu kemarin sudah bertemu, situs - situs akan diberlakukan rekayasa teknis. Kalau temuan lepas bisa digeser ke desa tapi kalau situs tidak mungkin dipindah,'' kata Deny pada wartawan saat cek situs di Jatinom.

Menurut Deny karena situs tidak mungkin dipindah maka disepakati ada rekayasa. Ada dua lokasi sementara.

" Lokasi di Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo dan termasuk yang di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan. Yang di Keprabon termasuk yang ada dua gundukan tanah," jelas Deny.

Pada rapat pekan lalu itu, imbuh Deny, pelaksana sudah sepakat akan melakukan rekayasa jika ada situs. Padahal tol di Klaten panjangnya sekitar 38 kilometer.

"Intinya pimpinan proyek akan merekayasa. Kita akan pantau dan terus kordinasi pelaksanaannya," pungkas Deny.

Sebelumnya diberitakan BPCB Jateng akan mengecek Yoni di Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten yang terancam proyek tol Yogyakarta-Solo. Tampak patok-patok jalan tol sudah terpasang di kanan dan kiri batu diduga Yoni tersebut.

Pamong Budaya Madya BPCB Jateng, Deny Wahju Hidajat saat dikonfirmasi menjelaskan, temuan itu sudah disampaikan ke tim untuk dicek. Menurutnya, proyek tol semestinya digeser agar tidak merusak cagar budaya.

"Sudah saya sampaikan ke tim sebab berkaitan jalan tol ada tim tersendiri dari BPCB. Akan dicek," kata Deny saat dihubungi detikcom, Sabtu (8/8/2020).

(hns/hns)