Jepang Belum Minat Bikin Kereta MRT Jakarta, Kenapa Tak Pakai INKA?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 16:23 WIB
Rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek diproduksi oleh PT INKA (Persero) yang bermarkas di Madiun, Jatim. Yuk intip proses pembuatannya.
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Minat kontraktor Jepang dalam proyek pengadaan kereta atau rolling stock untuk Fase II (Bundaran HI-Kota) atau dikenal dengan CP 206 masih sangat minim. PT MRT Jakarta yang sudah melakukan market sounding belum kunjung memperoleh peminat dari Jepang untuk menggarap proyek tersebut.

"CP 206 itu pengadaan rolling stock, ini menyesuaikan. Karena CP 202 dan 205 mundur, maka CP 206 kita undur. Jadi ini melayani seluruh kebutuhan konstruksi, sistem, ini terkendala. Karena ketika kita market sounding di Jepang, minat kontraktor Jepang untuk mengikuti paket ini boleh dikatakan nihil atau tidak ada," ungkap Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar dalam diskusi virtual, Senin (19/10/2020).

Lantas, mengapa tak menggunakan PT Industri Kereta Api (INKA) sebagai BUMN yang sudah mampu memproduksi kereta? William mengatakan, PT INKA bisa saja menjadi kontraktor yang menggarap paket CP 206 itu.

"Kalau pertanyaannya apakah bisa dibuat oleh INKA ya kita sudah lihat INKA membuat LRT. Jadi sebenarnya bisa saja," tutur William.

Namun, proyek MRT Jakarta Fase II ini didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan mekanisme STEP Loan atau Tied Loan. Sehingga, proyek itu hanya bisa digarap oleh perusahaan Jepang sebagai kontraktor utama.

"Kalau ketentuannya memang karena mekanismenya tied loan memang harus dari Jepang kontraktornya Memang persyaratan loan ini mengharuskan kita kontraktor utamanya Jepang," jelas dia.

Untuk CP 206 ini, MRT Jakarta hanya membutuhkan 6 kereta untuk rute Bundaran HI-Kota (Fase II-A), lalu butuh tambahan 8 kereta lagi untuk rute Kota-Ancol Barat (Fase II-B). Sehingga totalnya ada 14 kereta yang dibutuhkan, jika proyek Fase II-A dan II-B digabungkan. Namun, para kontraktor di Jepang tak juga tertarik.

"Jadi digabung dgn Fase II-B. Ini dilakukan virtual dengan manufaktur dan trading company di Jepang. Kemudian manufaktur dan perusahaan dagang merespons negatif, karena semua pihak menyatakan tidak tertarik dan adanya gap dalam jadwal Fase II-A (Bundaran HI-Kota) dan Fase II-B. Karena memang ada gap antara Fase II-A dan II-B," terang William.

Selain itu, para kontraktor Jepang juga masih sibuk memenuhi pesanan kereta untuk proyek-proyek di negara lain.

"Pada saat ini ada pembangunan-pembangunan MRT di region, di Manila, di Vietnam," pungkasnya.

(fdl/fdl)