MRT Jakarta Fase II Bisa Pakai Kontraktor Non-Jepang?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2020 14:35 WIB
Pembangunan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) fase II sudah mulai berjalan. Proyek ini akan menyambung Bundaran HI hingga Kota Tua.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Proyek MRT fase II masih terkendala karena proses tender terus gagal. Dua paket penting pada segmen 2 (Harmoni-Kota) hingga kini belum juga mendapatkan kontaktor karena proses tendernya gagal.

Kontraktor utama yang dipersyaratkan sendiri wajib dari Jepang. Hal ini disebabkan oleh kontrak pinjaman dengan pihak JICA dari Jepang yang mengisyaratkan kontraktor utama wajib dari negeri sakura.

Di sisi lain, banyak kontraktor Jepang yang belum berminat menggarap MRT Jakarta karena pandemi Corona membuat resiko lebih besar untuk pengerjaannya.

Lalu apakah pembangunan MRT bisa digarap oleh kontraktor utama selain dari Jepang?

Direktur Kontruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan pihaknya masih berpegangan pada kontrak pinjaman yang sudah dilakukan dengan pihak JICA. Hanya saja dia mengatakan, apabila proses tender masih terus tidak diminati, dia meminta pihak Jepang memberikan jalan keluar.

Menurutnya, membuka pintu untuk kontraktor asing bisa saja menjadi opsi paling terakhir. Namun, Silvia menegaskan pihaknya masih akan berdiskusi dengan JICA dan Pemerintah Jepang, untuk mencari berbagai opsi.

"Dalam loan agreement, main contrator-nya itu Jepang, dalam situasi begini kami mau menghormati. Kalau masih belum ada yang mau, kita meminta agar JICA dan Jepang kasih solusi mekanisme pengadaan lainnya yang bisa digunakan," ungkap Silvia dalam webinar bersama wartawan, Jumat (30/10/2020).

Dua opsi yang masih dipertimbangkan bila proses tender gagal adalah dengan melakukan penunjukan langsung, atau membuka kesempatan kepada kontraktor lokal.

"Bila semua opsi itu tidak bisa dijalankan bisa lah kita bicara jangan cuma kontraktor Jepang saja. Tapi itu last chance banget, we hope nggak kesitu," kata Silvia.

Dalam hal ini ada dua paket proyek pada pembangunan MRT fase II segmen 2 yang mengalami masalah gagal tender. Tepatnya, pada paket CP 202 yang membangun terowongan dari Harmoni ke Mangga Besar, dan paket CP205 untuk mengadakan sistem perkeretaapian dan rel.

Namun, untuk membuka pintu kontraktor selain Jepang, kemungkinan kesepakatan pinjaman untuk pembiayaan proyek ini bisa berubah, bahkan berkurang. Sejauh ini, JICA memberikan Rp 22,5 triliun kepada MRT Jakarta untuk membangun fase II dari Bundaran HI ke Kota.

"Kalau mekanisme loan segala macam itu kan negosasi. Bisa aja bentuk loannya berubah kalau non Japan contractor, bisa jadi berkurang," kata Silvia.

Silvia sendiri mengungkapkan, semenjak proyek MRT fase II bermasalah soal tender dan kontraktornya, banyak perusahaan di berbagai negara sudah menunjukan minat untuk masuk. Mulai dari Korea Selatan, China, hingga Prancis.

"Semenjak ada kesulitan di fase II, kita banyak mendapatkan request dan usulan dari kontaktor non Jepang yang siap. Dari luar negeri ya dari Korea Selatan, China, Prancis juga ada," kata Silvia.

(dna/dna)