Dilema Wajib Kontraktor Jepang di Proyek MRT Fase II

- detikFinance
Sabtu, 31 Okt 2020 11:30 WIB
Proses pembangunan konstruksi mass rapid transit atau MRT fase II mulai memasuki tahap lalu lintas, archeological test pit dan pencabutan pohon.
Proyek MRT Jakarta fase II/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Proyek MRT Jakarta fase II mengalami kendala. Paket segmen 2 (Harmoni-Kota) hingga kini belum juga mendapatkan kontraktor karena proses tendernya gagal.

Pemicunya adalah kontraktor dari Jepang belum berminat menggarap MRT Jakarta karena berisiko besar mengerjakan proyek saat pandemi COVID-19. Persoalan ini menjadi dilematis karena proyek tidak bisa dikerjakan kontraktor selain dari Jepang, sementara pihak MRT Jakarta ingin proyek segera jalan.

Kewajiban memakai kontraktor Jepang menjadi perjanjian dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) selaku pembiaya proyek. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan untuk membuka pintu bagi kontraktor non Jepang bisa saja dilakukan, tapi menjadi opsi terakhir.

MRT Jakarta masih akan mencoba berdiskusi dengan JICA dan Pemerintah Jepang untuk mencari berbagai opsi. Selain itu, MRT Jakata masih berpegangan pada kontrak pinjaman yang sudah dilakukan dengan pihak JICA, namun tetap meminta ada solusi.

"Dalam loan agreement, main contractor-nya itu Jepang, dalam situasi begini kami mau menghormati. Kalau masih belum ada yang mau, kita meminta agar JICA dan Jepang kasih solusi mekanisme pengadaan lainnya yang bisa digunakan," ungkap Silvia dalam webinar bersama wartawan, Jumat (30/10/2020).

Opsi yang masih dipertimbangkan bila proses tender gagal adalah dengan melakukan penunjukan langsung atau membuka kesempatan kepada kontraktor lokal.

"Bila semua opsi itu tidak bisa dijalankan bisa lah kita bicara jangan cuma kontraktor Jepang saja. Tapi itu last chance banget, we hope nggak kesitu," kata Silvia.

Ini yang dikhawatirkan jika proyek MRT membuka pintu untuk kontraktor selain dari Jepang. Langsung klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2