Singapura dan Malaysia Batalkan Proyek Kereta Cepat Rp 350 T

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 02 Jan 2021 14:15 WIB
Muhyiddin Yassin, president of Malaysian United Indigenous Party, waves to journalists as he leaves his house to the palace to meet the king in Kuala Lumpur, Saturday, Feb. 29, 2020. Malaysian leader Mahathir Mohamad indicated Saturday that he will reconcile with the former ruling alliance he led with rival Anwar Ibrahim in an about-turn that follows a week of political turmoil that followed his resignation as prime minister. (AP Photo)
Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin/Foto: AP Photo
Jakarta -

Singapura dan Malaysia resmi menghentikan seluruh kesepakatan pembangunan proyek kereta cepat bernilai US$ 25 miliar setara Rp 350,55 triliun (kurs Rp 14.022). Alasannya, kedua negara tak juga menemui titik temu perubahan pada cetak biru kesepakatan proyek tersebut yang sudah diteken pada 2016.

Sebagai akibat dari pembatalan tersebut, pemerintah Malaysia yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin berkewajiban untuk membayar Singapura dengan biaya penghentian kerja sama lebih dari 100 juta dolar Singapura atau US$ 75 juta setara Rp 1,05 triliun.

Dalam pernyataan bersama, Muhyiddin dan PM Singapura Lee Hsien Loong mengatakan mereka tidak dapat menyetujui perubahan yang diusulkan Malaysia sebelum batas waktu 31 Desember 2020 kemarin.

"Kedua negara akan mematuhi kewajiban masing-masing, dan sekarang akan melanjutkan tindakan yang diperlukan, sebagai akibat dari penghentian perjanjian Rel Berkecepatan Tinggi ini," kata pernyataan itu dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Sabtu (2/1/2021).

"Berkomitmen untuk menjaga hubungan bilateral yang baik dan bekerja sama secara erat di berbagai bidang, termasuk memperkuat konektivitas kedua negara," sambung pernyataan itu.

Untuk diketahui, transportasi kereta cepat sepanjang 350 kilometer (km) ini rencananya dibangun untuk menghubungkan dua pusat bisnis, yaitu Singapura dan Kuala Lumpur. Kehadiran kereta cepat ini disebut dapat memangkas waktu tempuh dari 4 jam lebih menjadi 90 menit saja.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, sebuah studi dari para peneliti di Institut Ekonomi Berkembang Jepang memperkirakan proyek tersebut menciptakan keuntungan ekonomi tahunan sebesar US$ 1,6 miliar untuk Malaysia dan US$ 641 juta untuk Singapura pada 2030 ketika jalur tersebut sudah beroperasi penuh.

Selain memberi keuntungan secara ekonomi, kesepakatan ini diyakini mantan PM Malaysia Najib Razak kala itu, yang meneken perjanjian bilateral tersebut, dapat menguatkan kembali hubungan kedua negara tetangga yang punya sejarah begitu rapuh itu.

"Kepentingan besar dalam menjaga hubungan tetap stabil dan hangat," ucap Najib Razak kala itu.

Sementara, menurut Lee mengatakan. kesepakatan itu dapat menjadi 'game changer' bagi keduanya.

(ara/ara)