Pendapatan Tol Diselamatkan Truk Barang Selama Pandemi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 08 Jan 2021 18:49 WIB
Antrean panjang kendaraan kontainer mengular di sepanjang ruas jalan tol depan JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (3/8/2017). Hal ini terjadi akibat mogok massal karyawan JICT yang berlaku mulai  3-10 Agustus 2017 mendatang. Kemacetan terjadi hingga kawasan seputar Kalibaru dan persimpangan Cilincing.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kendaraan pengangkut barang logistik menjadi penyelamat pendapatan jalan tol sepanjang tahun 2020. Hal itu diungkapkan oleh Kepala BPJT Kementerian PUPR Danang Parikesit.

Danang memaparkan jumlah transaksi harian di jalan tol selama tahun 2020 mengalami penurunan secara nasional hingga 26,1%. Di tahun 2019 rata-rata transaksi harian jalan tol mencapai 4,6 juta, sementara di tahun 2020 turun hanya 3,4 juta per hari.

"Di tahun 2019 ada 4,6 juta transaksi per hari, di 2020 rata-ratanya 3,4 juta. Kondisi ini terjadi karena pandemi COVID, antara Maret hingga Agustus mengalami penurunan," ujar Danang dalam paparan kinerja BPJT 2020, Jumat (8/1/2021).

Meski transaksi harian turun drastis, Danang mengatakan pendapatan jalan tol meskipun turun tapi tak signifikan. Di tengah anjloknya jumlah transaksi harian hingga 26%, volume transaksi alias jumlah pendapatan jalan tol nasional hanya turun 8,7% selama 2020.

Danang mengatakan hal itu terjadi karena adanya kenaikan kendaraan besar pengangkut barang seperti truk-truk logistik yang menggunakan jalan tol. Dia menjelaskan kendaraan tersebut daya belinya lebih besar di jalan tol.

"Memang traffic mengalami penurunan hingga 26%, tapi penurunan volume transaksi nggak sebesar itu. Volume transaksi hanya turun sekitar 8,7%. Ini konsisten karena jumlah kendaraan barang meningkat," ujar Danang.

"Karena kendaraan barang itu, daya belinya tinggi maka menyelamatkan volume transaksi di jalan tol sepanjang tahun 2020," lanjutnya.

Adapun jumlah volume transaksi di jalan tol selama tahun 2020 jumlahnya mencapai Rp 19,19 triliun. Lebih kecil jumlahnya dibanding tahun 2019 yang mencapai Rp 21,02 triliun.

Bila dilihat datanya, kenaikan kendaraan barang menggunakan jalan terlihat dari jumlah kendaraan golongan II-IV yang jumlahnya naik di tahun 2020. Dari awalnya di tahun 2019 hanya 12,39% dari seluruh pengguna jalan tol, di tahun 2020 naik menjadi 13,56%.

"Memang salah satu tujuan jalan tol adalah akomodasi pelayanan logistik. Kami gembira meski traffic menurun, kendaraan barang gol II hingga IV ini meningkat," kata Danang.

(eds/eds)