Sering Dilanda Gempa, RI Punya Teknologi Konstruksi Antigempa?

Dana Aditiasari - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 10:43 WIB
Rumah Tahan Gempa
Foto: Rumah Tahan Gempa (Istimewa)
Jakarta -

Indonesia merupakan negara yang masuk dalam jalur cincin api (ring of fire) dengan jajaran gunung api yang mayoritasnya berstatus aktif sehingga membuat kawasannya memiliki berkah dengan tanahnya yang subur. Di sisi lain, kawasan ini juga menjadi area dengan potensi gempa bumi maupun letusan gunung yang sangat besar.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), periode tahun 2018 hingga 2000 tercatat telah terjadi sekitar 228 kali gempa bumi yang telah memakan korban jiwa mencapai 8.747 orang. Tingkat kerusakan pada bangunan rumah saja mencapai 483.951 unit yang rusak berat, 15.282 rumah rusak sedang, dan 694.253 rumah rusak ringan.

Besarnya kerugian materi ini salah satunya disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat khususnya yang bertempat tinggal di daerah-daerah rawan bencana tersebut. Seharusnya digunakan material maupun desain khusus untuk hunian maupun berbagai sarana lainnya di kawasan-kawasan yang rawan bencana seperti ini.

Penanganan korban hingga pengungsi akibat bencana seperti gempa menjadi hal penting yang harus ditangani karena itu diperlukan inovasi teknologi untuk sebuah bangunan tahan gempa dengan metode cepat bangun.

Menurut Kepala Program Inovasi Teknologi Bangunan Tahan Gempa BPPT Seto Roseno, tahun 2020 lalu BPPT telah berhasil mengembangkan dua unit prototipe Rumah Komposit Tahan Gempa yang dipasang di Kranggan, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, yang digunakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel guna mendukung infarstruktur mitigasi bencana.

"Rumah Komposit Tahan Gempa (RKTH) ini memiliki beberapa keunggulan yaitu cepat bangun dengan waktu tujuh hari dan cukup dikerjakan empat orang tukang. Mekanismenya modular dengan sistem knock down dan menggunakan frame struktur ringan sehingga bisa dikonsep sebagai rumah tumbuh maupun deret," ujarnya.

Seluruh material yang digunakan untuk membuat tipe rumah 36 m2 (6x6 m) seharga di bawah Rp170 jutaan ini telah memiliki berbagai standar yang ditetapkan. Untuk desain tahan gempanya telah terstandar SNI 1726-2012, tahan api ASTME 84/ISO 834-1, hingga sistem joint interlock serta seismic bearing sebagai base isolator.

Untuk material yang digunakan salah satunya menggunakan komponen sandwich panel produksi pabrikan lokal PT Alsun Suksesindo di Bekasi, Jawa Barat. Menurut Rudy Kesuma, Direktur Alsun Suksesindo, produk yang digunakan untuk RKTH ini memiliki keunggulan maupun kelebihan secara material maupun dikaitkan dengan situasi pandemi COVID-19.

"Produk Alsun digunakan sebagai partisi sandwich panel untuk RKTH yang dirancang menggunakan material khusus polyisocyanurate (PIR). Material ini memiliki beberapa kelebihan yaitu ringan namun solid, anti api (flame retardant), dan anti bakteri-virus menggunakan coating khusus," jelasnya.

Fitur khusus anti bakteri-virus ini yang membuat produk Alsun digunakan untuk berbagai fasilitas penanganan pandemi COVID. Misalnya, Sandwich Panel Antibacterial Alsun ini telah digunakan untuk RS Galang di Pulau Batam, RS Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, RS Adam Malik Medan, dan beberapa fasilitas kesehatan lain khususnya yang terkait untuk penanganan COVID-19.

"Kami juga tengah dalam proses pembicaraan untuk terus mengembangkan produk ini baik dengan BPPT, asosiasi perusahaan pengembang, maupun pihak lainnya. Hunian dengan material khusus seperti ini sangat layak digunakan namun dengan berbagai kelebihan antara lain tidak akan ambruk bila ada goncangan gempa seperti rumah konvensional sehingga bisa meminimalkan risiko," beber Rudy.

Ia melanjutkan, pihaknya juga menyediakan informasi detil mengenai konstruksi antigempa yang dapat diakses melalui email alsun@cbn.net.id.

(dna/zlf)