2 Tahun MRT Jakarta, Gaya Hidup Naik 'BMW' Makin Populer

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Rabu, 24 Mar 2021 07:15 WIB
Moda Raya Transportasi (MRT) Jakarta mulai beroperasi normal hari ini. Sebelumnya, transportasi publik itu sempat dihentikan sementara waktu imbas aksi 22 Mei.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

"Begitu mereka selesai membangun ini di seluruh bagian kota, bakalan gampang banget untuk pergi ke mana-mana. Cepat dan gampang." begitu kalimat yang disampaikan Alexander White, seorang YouTuber dan traveler dunia seusai menjajal MRT Jakarta, seperti dilihat dalam saluran YouTubenya.

Di hari yang sama, Alexander juga telah menjajal bus TransJakarta dan berjalan kaki menuju moda transportasi berikutnya mengunjungi Kota Tua, Monas, dan Gelora Bung Karno. Alexander menggunakan 'BMW' alias Bus, MRT, dan Walk di Jakarta, seperti mobilitas warga-warga di kota-kota negara maju pada umumnya.

Pengalaman naik 'BMW' yang dirasakan Alexander bisa jadi juga dirasakan oleh banyak warga Ibu Kota sejak beroperasinya MRT Jakarta. Meski panjang rute yang beroperasi baru 16 km, namun kehadiran MRT dalam dua tahun terakhir sukses mengubah gaya hidup masyarakat Jakarta dalam menggunakan transportasi umum.

PT MRT Jakarta batasi operasional MRT guna dukung penerapan PSBB DKI Jakarta. Tiga Stasiun MRT pun ditutup terkait pembatasan operasional tersebut.PT MRT Jakarta batasi operasional MRT guna dukung penerapan PSBB DKI Jakarta. Foto: Antara Foto

Dipercaya Masyarakat

PT MRT Jakarta mencatat total jumlah penumpang yang diangkut dalam dua tahun pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) sebanyak 35,5 juta orang (per 16 Maret 2021). Angka ini mungkin jauh lebih sedikit dari target yang dicanangkan lantaran pandemi menghadang. Tapi keandalan, kenyamanan, dan keamanan MRT berhasil menciptakan rasa percaya pada penumpangnya.

Sepanjang 2020 lalu, ketepatan waktu MRT Jakarta mencapai 99,98% dengan total perjalanan mencapai 69.276 perjalanan kereta. Ketepatan waktu tersebut terdiri dari ketepatan waktu kedatangan kereta antar-stasiun 99,97%, ketepatan waktu berhenti di stasiun 99,98%, dan ketepatan waktu tempuh sebesar 99,98%.

Alhasil tingkat kepuasan penumpang MRT dalam masa pandemi tercatat lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan kepercayaan penumpang mengandalkan MRT sebagai moda transportasinya semakin baik.

"Jadi walaupun penumpang menurun, kualitas atau standar pelayanan internasional itu tetap kita pertahankan. Customer satisfaction index 2020 kita itu mencapai 86%. Ini malah lebih bagus dari tahun sebelumnya," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar kepada detikcom.

Di masa PSBB transisi, layanan transportasi MRT Jakarta kembali beroperasi normal. Namun jumlah penumpang hanya dibatasi 65 orang dalam satu kereta dan totalnya 390 penumpang dalam satu rangkaian kereta.Di masa PSBB transisi, layanan transportasi MRT Jakarta kembali beroperasi normal. Namun jumlah penumpang hanya dibatasi 65 orang dalam satu kereta dan totalnya 390 penumpang dalam satu rangkaian kereta. Foto: Rengga Sancaya

Cara MRT dalam meningkatkan jumlah penumpangnya pun cenderung tak lazim bagi moda transportasi pada umumnya. Beberapa program dilakukan MRT Jakarta dalam meningkatkan jumlah penumpangnya, mulai dari kerja sama dengan bus PPD, komunitas, marketplace, hingga para startup dari berbagai genre.

Selain itu, karena MRT Jakarta tak lagi dapat mengandalkan jumlah penumpang sebagai parameter bisnisnya, perusahaan mengandalkan pendapatan non tiket dengan berbagai inovasi. Misalnya, optimalisasi ruang yang dimiliki MRT sebagai area coworking, pengembangan mobile ticketing menggunakan aplikasi pada smartphone, smart vending machine, hingga pelatihan online untuk startup dan UMKM.

"Memang kata kuncinya adalah kolaborasi. Begitu kita berkolaborasi, kita bisa menciptakan potensi-potensi bisnis baru yang menempatkan MRT tetap jadi perusahaan maju yang terus berkembang," kata William.

MRT Jakarta juga memberikan kesempatan yang sama untuk semua masyarakat dari berbagai kalangan dalam mengakses Ratangga (nama kereta MRT). Selain menyediakan akses khusus bagi difabel, MRT juga memberikan kemudahan bagi mereka yang bepergian menggunakan moda lain seperti ojek online hingga sepeda baik lipat dan non lipat.

Budaya Baru

Dalam dua tahun beroperasi, MRT Jakarta berhasil membentuk budaya baru. Budaya inilah yang digadang-gadang oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat dua tahun lalu meresmikan kereta dalam kota pertama Indonesia tersebut, yakni menjaga kebersihan, antre, dan disiplin waktu.

Gaya hidup menggunakan 'BMW' tak pelak semakin populer di Ibu Kota. Ditambah dengan dukungan penyediaan infrastruktur yang baik seperti trotoar, parkir sepeda, jembatan penyeberangan, dan zebra cross bagi pejalan kaki. Masyarakat pun makin percaya diri mengandalkan transportasi umum sebagai mobilitasnya sehari-hari.

"Budaya inilah yang akan mendorong orang untuk melihat bahwa transportasi publik adalah pilihan utama dalam gaya hidup," kata William.

Gaya Hidup Naik 'BMW' di JakartaGaya Hidup Naik 'BMW' di Jakarta Foto: Eduardo Simorangkir

Kehadiran MRT juga ikut memperkaya nilai kawasan yang dilaluinya. Fenomena bangkitnya kawasan Blok M dan sekitarnya menjadi bukti bahwa penyediaan transportasi umum yang baik dan bisa diandalkan turut membawa peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Blok M itu kan kawasan lama yang pernah sukses. Dulu kan bisa kita lihat sebelum ada MRT, mereka sepi seperti mau tutup. Tapi setelah MRT beroperasi, itu hidup lagi. Banyak yang tujuannya jadi ke sana dan jadinya kawasannya hidup lagi," kata Pengamat Transportasi Deddy Herlambang kepada detikcom, saat dihubungi Selasa (23/3/2021).

Sejumlah Stasiun MRT terintegrasi dengan gedung-gedung di sekitarnya. Salah satunya adalah dengan Mal Blok M Plaza.Sejumlah Stasiun MRT terintegrasi dengan gedung-gedung di sekitarnya. Salah satunya adalah dengan Mal Blok M Plaza. Foto: Rifkianto Nugroho

Tak pelak, ini juga yang turut membawa Jakarta meraih penghargaan transportasi perkotaan tingkat dunia di ajang Sustainable Transport Award 2021. Jakarta dinilai berhasil mengintegrasikan sistem BRT dengan layanan mikrobus (angkot) serta kehadiran sistem metro pertama yang memberikan tambahan opsi moda angkutan umum bagi warga Ibu Kota. Kolaborasi integrasi antar-moda tersebut juga didukung oleh peningkatan fasilitas pejalan kaki dan akses menuju berbagai moda angkutan umum.

Tidak salah kemudian Bank Indonesia juga menempatkan gambar Ratangga dalam uang rupiah khusus edisi kemerdekaan nominal Rp 75.000. Sebuah harapan membawa Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Seperti kita tahu, negara yang maju bukan tentang si miskin yang bisa membeli mobil seperti si kaya, namun saat keduanya menggunakan transportasi umum yang sama.

Masa Depan MRT

Misi MRT mengubah Jakarta menjadi kota yang lebih maju tak bisa sendirian. Dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan demi mencapai misi tersebut.

Pengamat Transportasi sekaligus Wakil Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang mengatakan pemerintah perlu menggalakkan kebijakan lainnya demi menggenjot penggunaan transportasi publik. Kolaborasi antar pemerintah daerah dan pusat juga perlu diperkuat.

Misalnya rencana Pemprov DKI Jakarta membatasi operasional mobil berusia di atas 10 tahun di Ibu Kota yang belum bisa terlaksana lantaran terganjal oleh aturan Pemerintah Pusat. Beleid yang dikeluarkan oleh Gubernur Anies Baswedan terganjal oleh UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang tidak mengatur usia kendaraan.

"Jadi aturan Gubernurnya kurang kuat karena memang cantolan yang di atas belum ada. Yang ada cuma emisinya, usia nggak ada," kata Deddy.

Selain itu, pembangunan MRT fase lanjutan dari Bundaran HI diharapkan cepat diselesaikan demi menambah angka penumpang yang beralih menggunakan transportasi umum. Saat ini, fase kedua dari Bundaran HI menuju Kota diperkirakan baru bisa beroperasi Agustus 2027, dengan pengoperasian HI-Monas pada Maret 2025.

"Kalau sudah bisa sampai ke Kota misalnya, baru bisa demand-nya banyak. Kalau potensi demand bisa digarap di sana, itu akan jauh lebih bagus," ujar Deddy.

Hal ini diamini oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar. Sejumlah kebijakan untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi bisa lebih banyak dilakukan seiring peningkatan fasilitas transportasi umum yang semakin baik.

Misalnya mendorong kebijakan jalan kaki, penggunaan sepeda, hingga push policy seperti pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan kebijakan menaikkan tarif parkir di kawasan-kawasan yang fasilitas transportasi publiknya sudah bagus.

"Kalau di kota-kota besar lainnya, biaya parkir di jalur seperti ini sudah besar sekali," kata William.

Pekerjaan rumah yang tak kalah penting juga adalah integrasi tiket antar-moda. Di Jabodetabek, rencananya integrasi pembayaran angkutan publik melalui kartu dan aplikasi akan diluncurkan pada kuartal III tahun ini atau sekitar Agustus-September 2021.

Proses integrasi ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui PT MRT Jakarta (Perseroda), PT Transportasi Jakarta, dan PT Jakarta Propertindo, dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN melalui PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (anak perusahaan PT MRT Jakarta (Perseoda) dan PT Kereta Api Indonesia (Persero)). Proses integrasi ini membentuk PT Jaklingko Indonesia yang akan bertugas sebagai integrator pembayaran dan tarif sejabodetabek dengan mengelola data dan pola pergerakan pengguna jasa dari integrasi pembayaran antar-moda transportasi agar lebih efektif dan efisien.

Parkir khusus penyintas disabilitas tersedia di Stasiun MRT Jakarta. Parkiran itu diharapkan dapat mudahkan akses para difabel untuk gunakan transportasi MRT.Parkir khusus penyintas disabilitas tersedia di Stasiun MRT Jakarta. Parkiran itu diharapkan dapat mudahkan akses para difabel untuk gunakan transportasi MRT. Foto: Grandyos Zafna

PT MRT Jakarta juga mengembangkan konsep kawasan berorientasi transit atau transit oriented development(TOD) di beberapa stasiun yang ada di fase 1 koridor selatan-utara. Hal tersebut tercantum dalam rencana induk kawasan transit terpadu yang dipusatkan pada lima stasiun, yaitu Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati, kawasan Cipete (yang mencakup Stasiun Cipete, Stasiun Haji Nawi, Stasiun Blok A), kawasan Blok M (termasuk Stasiun Sisingamangaraja), dan Stasiun Dukuh Atas.

TOD merupakan area perkotaan yang dirancang untuk memadukan fungsi transit dengan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang bertujuan untuk mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.

Konsep pembangunan kota yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penghuninya, termasuk penataan kawasan, arus penumpang, dan integrasi antar-moda akan menjaga Jakarta tetap memiliki ruang yang cukup untuk pembangunan di masa depan. Mimpi buruk ketimpangan sosial dan kelas menengah produktif yang semakin terpinggirkan ke luar kota pun bisa terhindarkan.

"Ini akan membantu sekali proses perpindahan orang dari transportasi pribadi ke transportasi publik," kata William.

Simak juga 'Penumpang MRT Terus Naik di Masa PSBB Transisi':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/ara)