Terpopuler Sepekan

Tol Yogya-Cilacap Batal 'Libas' Makam, Luhut Turun Tangan

Heri Susanto - detikFinance
Sabtu, 05 Jun 2021 22:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) memastikan desain jalan tol Yogyakarta-Cilacap tidak ada persoalan. Termasuk trase yang melewati Yogyakarta International Airport (YIA) tidak melewati makam dan permukiman di Mlangi, Kabupaten Sleman.

Pembangunan trase YIA mendapatkan penolakan warga kampung Mlangi. Mereka pun menyampaikan aspirasi penolakan tersebut ke Sultan. Mereka beralasan penolakan tersebut karena Kampung Mlangi sebagai kesatuan ruang, yang juga sudah diatur dalam Perdais nomor 2 tahun 2017 tentang Tata Ruang Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten yang menabrak pemakaman dan permukiman.

Persoalan tersebut selesai setelah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan turun tangan dengan rapat bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sultan HB X, dan beberapa pihak terkait.

"Pada waktu rapat di Borobudur minggu lalu saya diundang Pak Luhut, itu baru clear. Itu tidak mengenai makam, rumah penduduk," kata Sultan usai rapat paripurna di Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro, Rabu (2/7) lalu.

Sultan menjelaskan, dengan kepastian tak akan mengenai makam dan permukiman, dirinya tinggal menanti informasi dari Menteri PUPR. "Kita tinggal nunggu Pak Menteri PU (PUPR) persetujuannya," kata Sultan.

Setelah selesai mendapatkan izin, lanjut, Sultan dirinya akan segera menerbitkan izin penetapan lokasi (IPL). Kementrian PUPR juga telah melakukan survei lokasi. "Itu kan saya dapat surat dari departemen PUPR, kalau jalurnya (yang sudah) mereka survei memang oke," jelasnya.

Pembangunan tol Yogyakarta-Cilacap yang tahap awal dari Yogyakarta menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), kata Sultan, sempat mengalami masalah. Warga di Mlangi menolak rencana pembangunan jalan tol tersebut karena melewati pemakaman leluhur mereka.

Penolakan tersebut sempat mengalami kebuntuan. Karena saat itu investor menolak untuk memindahkan patok jalan tol. "Kita (warga dan pemerintah) sudah sepakat. Tapi investor (saat itu) tidak mau karena terlalu mahal," jelas Sultan.

(fdl/fdl)