Perjalanan Proyek Monorel Jakarta yang Besinya Digondol Maling

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 19 Jul 2021 06:31 WIB
Tiang konstruksi proyek monorel yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan tidak terpakai. Terlebih, proyek LRT Jabodebek yang berada di sampingnya membuat konstruksi baru untuk koridor Cawang-Dukuh Atas.
Foto: Rengga Sancaya

Di sisi lain, PT Adhi Karya bingung tiang-tiangnya senilai Rp 193 miliar belum dibayar PT JM. Pihak PT JM sendiri merasa tidak punya utang karena 200 tiang monorel itu sekarang sudah menjadi milik PT Adhi Karya.

Jokowi jadi presiden, giliran Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI. Di zaman Ahok, tidak ada juga perkembangan berarti dalam proyek monorel. Dia mengancam surat putus bila tak ada perkembangan selama 3 bulan.

"Langsung aku kirim surat putus kita. Tidak ada lagi kereta monorel. Yaa... jadi tiang monumen," kata Ahok, 26 Juni 2014.

Ahok pun emoh melanjutkan proyek monorel bersama PT JM. Soal tiang-tiang yang telanjur berdiri, dia sadar itu adalah milik PT Adhi Karya (BUMN). Tiang itu bakal menjadi monumen penipuan. Dia merasa PT JM tidak memberikan kejelasan kelanjutan proyek itu.

"(Aset yang sudah terbangun) nggak bisa disita juga, karena tiang punya Adhi Karya. Kalau kita mau pakai, ya bayar. Tapi saya jamin nggak akan dibongkar lah. Mungkin dijadikan monumen terjadi penipuan atau dijadikan tiang untuk light rail," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, 30 Oktober 2014.

Pemprov DKI pun mengeluarkan rencana memutus kontrak dengan PT Jakarta Monorail (PT JM) di 2015. Tiang-tiang monorel diminta untuk dibongkar.

Akhirnya, mendekati akhir tahun, Ahok mengatakan Pemprov DKI sudah putus kontrak dengan PT JM. Tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika diambil alih PT Adhi Karya untuk menjadi tiang light rail transit (LRT).

"Sudah bye-bye (dengan PT JM), nggak ada cerita. Nanti bekas tiang-tiangnya diambil Adhi Karya untuk LRT," ujar Ahok di RSUD Tarakan, Jl Kyai Caringin, Jakarta Pusat, 10 September 2015.

Singkat cerita, di tahun 2017 saat pembangunan LRT Jabodebek dimulai, Adhi Karya selaku kontraktor proyek LRT justru lebih memilih membangun tiang baru. Tepatnya di tengah Jalan HR Rasuna Said dan terpisah dari lokasi tiang bekas monorel.

Tiang monorel dinilai kurang pas, apalagi letaknya berada lebih ke pinggir jalan, yaitu di sekitar pembatas jalur cepat dan jalur lambat.

Di 2018, Adhi Karya selaku pemilik tiang monorel mewacanakan penggunaan tiang itu untuk penyangga jalur bus. Saat itu PT Adhi Karya masih berdiskusi dengan Pemprov DKI soal pemanfaatan tiang-tiang monorel.

"Bisa untuk hal lain, misalnya bisa jadi elevated bus bisa nggak di situ, bisa nggak dipakai untuk trase yang lain," kata Direktur Operasi II Adhi Karya, Pundjung Setya saat dihubungi, Jakarta, 17 Februari 2018.

Oktober 2020, ide pemanfaatan lain berkembang. Hal itu adalah menjadikan tiang-tiang ini sebagai skywalk alias tempat pejalan kaki layang.

Nantinya skywalk tersebut diintegrasikan dengan stasiun LRT yang berada satu kawasan dengan tiang-tiang monorel tersebut. Jadi, dengan adanya akses pejalan kaki tersebut, begitu pengguna LRT Jabodebek turun di stasiun bisa menuju ke gedung-gedung sekitar dengan lebih mudah.

Namun Pundjung mengatakan pihaknya baru menyusun konsep dasar pembangunan skywalk. Soal besaran biaya yang dibutuhkan untuk proyek tersebut belum diketahui angkanya.

"Ini nanti akan diintegrasikan dengan stasiun LRT misalnya, dan akses ke building di sekitarnya sehingga tidak perlu turun sekaligus menciptakan ruang untuk pejalan kaki," jelas Pundjung.

Namun kini, tiang itu tak kunjung digunakan juga. Tiang dibiarkan berdiri dan bagai dibiarkan begitu saja, bahkan sampai harus dicuri besi-besi tiang pancangnya.

Sejak awal pembangunan di tahun 2004 rencananya ada dua jalur monorel yang rencananya dibangun:

1. Green Line: 14,3 km.
Dimulai dari stasiun monorel di Casablanca, melewati kawasan sekitar Hotel Gran Melia, Satria Mandala, Kusuma Chandra, Polda Metro Jaya, BEJ, Gelora Bung Karno Senayan, Plaza Senayan, JHCC, gedung MPR/DPR, Taman Ria Senayan, gedung MPR/DPR, Pejompongan, Karet, Sudirman, Setiabudi Utara, Kuningan, Taman Rasuna, kembali ke Stasiun Casablanca.

2. Blue Line: 12,7 km.
Dimulai dari Kampung Melayu, melewati kawasan Tebet, Menteng Dalam, Stasiun Casablanca, Ambasador, Stasiun Dharmala Sakti, Menara Batavia, Karet, kawasan Slipi, Cideng, dan berakhir di kawasan Roxy.


(hal/eds)