4 Biang Kerok Biaya Proyek Kereta Cepat JKT-BDG Bengkak ke Rp 113 T

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 02 Sep 2021 10:53 WIB
Progres pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sampai minggu pertama Juni 2021 telah mencapai 74,5%. Sejauh ini, proses pemasangan Box Girder proyek tersebut dari Casting Yard 1 arah Bandung telah berhasil dirampungkan di akhir bulan Mei lalu.
Foto: Istimewa/PT KCIC
Jakarta -

Biaya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membengkak. Hitungan terakhir dari PT KAI (Persero), biaya proyek tersebut kini menjadi US$ 7,97 miliar atau sekitar Rp 113 triliun dari sebelumnya US$ 6,07 miliar atau sekitar Rp 85 triliun (kurs Rp 14.200), meskipun di sisi lain terjadi efisiensi.

Apa biang kerok proyek tersebut membengkak? Berikut fakta-faktanya:

1. Pembebasan Lahan dan Konstruksi

Salusra menjelaskan, pembengkakan biaya proyek paling banyak terjadi pada pembiayaan pembebasan lahan dan biaya konstruksi. Dalam paparannya, kenaikan biaya konstruksi terjadi dengan perkiraan sebesar US$ 600 juta-1,25 miliar, dan kenaikan pembebasan lahan mencapai US$ 300 juta.

"Ini memang tough sekali, karena jalurnya banyak dan luas. Masalah lahan juga melewati daerah komersial, bahkan ada kawasan industri yang direlokasi dan ini costly (mahal) sekali untuk penggantiannya," papar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAI Salusra Wijaya.

2. Keterlambatan Proyek

Kemudian ada kenaikan biaya keuangan mencapai US$ 200 juta, dia menyatakan kenaikan ini terjadi karena beban interest during construction yang besar karena keterlambatan proyek.

3. Konsultan Keuangan, Pajak dan Hukum

Kenaikan biaya juga terjadi untuk biaya pra-operasi dan head office sebesar US$ 200 juta. Kenaikan terjadi disebabkan kenaikan biaya konsultan keuangan, pajak, dan hukum. Di sisi lain keterlambatan proyek membuat biaya operasional keseharian proyek ikut naik.

4. Persinyalan

Lalu yang terakhir ada juga biaya untuk keperluan lainnya yang naik mencapai US$ 50 juta. Paling dominan digunakan untuk biaya keperluan sinyal yang bekerja sama dengan Telkomsel.

Perlu diketahui, KCIC selaku pemilik proyek kereta cepat Jakarta Bandung adalah gabungan dari beberapa BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan juga gabungan perusahaan China dalam perusahaan Beijing Yawan.

Porsinya, 60% dari KCIC milik PSBI, sisanya adalah milik gabungan perusahaan China. KAI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang berada di dalam PSBI.

Simak juga Video: Penampakan Pembangunan Jembatan Tertinggi Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

[Gambas:Video 20detik]



(toy/eds)