Proyek Jembatan Selat Sunda Disorot Lagi, Memang Apa Manfaatnya?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 19 Sep 2021 19:55 WIB
Jembatan Mahakam ditabrak kapal tongkang. Pilar jembatan Mahakam tersebut mengalami kerusakan. (Budi Kurniawan/detikcom)
Foto: Ilustrasi Jembatan (Budi Kurniawan/detikcom)
Jakarta -

Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) kembali menjadi bahan perbincangan publik. Bermula dari Menteri Koordinator Perekonomian era 2009-2014 Hatta Rajasa yang mengungkit proyek tersebut

Dia menjelaskan peran penting dari adanya JSS. Salah satunya bisa mendukung keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

"Potensi (Tol Trans Sumatera) ini akan lebih optimal apabila Jembatan Selat Sunda dibangun sehingga akan mendorong migrasi industri di Jawa yang padat menuju ke Sumatera. Migrasi ini akan berdampak munculnya kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Dengan demikian maka kita dapat mengatasi ketimpangan spasial antara wilayah," jelas Hatta dalam webinar HK Academy, Kamis (9/9/2021).

Jauh sebelum itu, pada saat Hatta masih menjabat sebagai Menko Perekonomian, dia menjabarkan fungsi dari JSS. Menurutnya proyek itu bukan hanya sekadar membangun jembatan saja tapi juga mengembangkan kawasan industri strategis di sekitar jembatan tersebut.

"Kita memikirkan ekonomi kita pada 10-20 tahun ke depan. Saat ini saja begitu ada gangguan sedikit saja Anda bisa melihat bagaimana truk-truk itu mengantre sampai 10 km karena memang ekonomi kita bergerak. Angkutan logistik meningkat, bahkan angkutan sudah melebihi 2 juta roda empat yang menyeberangi Selat Sunda tersebut," tutur Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Menurutnya proyek jembatan dan kawasan ini sangat strategis karena bisa menjadi penghubung logistik dua pulau besar yang seringkali macet akibat terbatasnya sarana penyeberangan kedua pulau.

"Keberadaan kawasan Jembatan Selat Sunda ini menjadi sangat strategis bagi tidak hanya dua pulau ini, tapi dalam arti keseluruhan ekonomi Indonesia. Dari Medan, dari Aceh itu sampai ke Lombok truknya melalui penyeberangan Feri mengalirkan berbagai macam komoditi dan logistik-logistik yang merupakan bagian daripada kebutuhan masyarakat untuk pembangunan ekonomi secara keseluruhan," papar Hatta.

Namun, saat Joko Widodo (Jokowi) melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Presiden, dirinya tak melanjutkan proyek Jembatan Selat Sunda. Hal itu diungkapkan oleh Andrinof Chaniago pada Oktober 2014 yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional.

"Sampai sekarang tak pernah ada pernyataan dari Bapak Presiden akan memajukan itu ke dalam program proyek infrastruktur," tuturnya 31 Oktober 2014 lalu.

Dia kembali menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi belum berniat membangun mega proyek Jembatan Selat Sunda. Jembatan ini sedianya menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera melalui Banten dan Lampung.

"JSS kita ganti dengan perbaikan dermaga yang rusak. Kita beli kapal yang layak," kata Adrinof 25 Maret 2015.

Sejak saat itu mimpi terbangunnya Jembatan Selat Sunda terkubur dan tak pernah muncul wacana tersebut dari mulut pemerintah.

(das/dna)