Sistem Keamanan Kereta Cepat JKT-BDG Bisa Prediksi Gempa & Tangkal Petir

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 21 Nov 2021 09:00 WIB
Progres pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sampai minggu pertama Juni 2021 telah mencapai 74,5%. Sejauh ini, proses pemasangan Box Girder proyek tersebut dari Casting Yard 1 arah Bandung telah berhasil dirampungkan di akhir bulan Mei lalu.
Foto: Istimewa/PT KCIC
Jakarta -

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dirancang untuk mampu beroperasi hingga kecepatan 350 km/jam. Dengan kecepatan yang tinggi seperti itu KCJB juga dilengkapi teknologi proteksi untuk menangkal berbagai ancaman.

Teknologi proteksi itu disebut bisa menangkal ancaman angin kencang, hujan deras, gempa bumi, objek asing, sampai sambaran petir di lintasan KCJB.

"Keamanan tentu menjadi perhatian khusus, apalagi KCJB ini nanti saat beroperasi akan melaju sampai 350 km/jam. Untuk itu Kami sudah siapkan teknologi canggih yang terpasang di lintasan dan di dalam rangkaian kereta yang dapat mencegah terjadinya bahaya," kata Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi dalam keterangan tertulisnya dikutip Minggu (20/11/2021).

Untuk itu, Dwiyana mengaku pihaknya sudah menyiapkan berbagai instrument untuk melindungi KCJB dari bahaya di antaranya Disaster Monitoring Center, sensor pendeteksi ancaman di sepanjang trase KCJB, dan Disaster Monitoring Terminal di Tegalluar sebagai pusat pengelolaan data kebencanaan.

Selain itu, ada juga instrumen pengamatan langsung di lapangan dengan CCTV yang tersambung ke command center KCJB untuk mengirim informasi visual. Lalu, terdapat juga Internal dan Eksternal Lightning Protection System pada konstruksi KCJB.

Terkait ancaman gempa, Dwiyana mengatakan kalau di sepanjang trase KCJB, akan terpasang 7 sensor yang dipasang di jarak rata-rata tiap 25 km. Cara kerja dari sistem ini adalah, setiap sensor akan mengirim data jika mendeteksi getaran ke Disaster Monitoring Center untuk dianalisa dan ditarik kesimpulan untuk dilakukan upaya pencegahan kecelakaan pada KCJB.

Adapun sinyal kegempaan yang pertama kali akan ditangkap dan dikirim oleh alat sensor tersebut berupa gelombang P yang merupakan tanda awal terjadinya gempa. Informasi itu lalu akan sampai ke Disaster Monitoring System sebelum terjadinya Gelombang S yang merupakan getaran perusak dari gempa bumi.

Dari sinyal gelombang P yang terdeteksi tersebut, Dwiyana pun menjelaskan kalau pihaknya dapat segera melakukan mitigasi ancaman dengan mengirimkan peringatan dan instruksi ke setiap rangkaian kereta yang sedang beroperasi.

Lanjutkan membaca -->



Simak Video "Heboh Pilar Proyek Kereta Cepat Ambruk dan Timpa Ekskavator"
[Gambas:Video 20detik]