ADVERTISEMENT

Bos KAI Bongkar Fakta LRT Jabodebek: Desain Nggak Benar, Jadi Beban

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 06 Jul 2022 21:35 WIB
Jakarta -

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) Didiek Hartantyo buka-bukaan mengenai proyek LRT Jabodebek yang menjadi beban perseroan. Dia menilai desain pembiayaan proyek itu tidak benar sejak awal.

"Desainnya itu sudah nggak benar dari awal. LRT (Jabodebek) itu menjadi bagian dari kereta api (KAI) dan ini akan menjadi beban," kata Didiek dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR, Rabu (6/7/2022), dikutip dari kanal YouTube Komisi V DPR.

Didiek menjelaskan riwayat pembangunan LRT Jabodebek sejak 2015, yang diinisiasi oleh salah satu kontraktor dan Kementerian Perhubungan. Kemudian dimulai lah konstruksi setelah keluarnya Peraturan Presiden (Perpres).

Dalam perjalanannya pada 2017, kontraktor BUMN tersebut kesulitan menagih ongkos pembangunan kepada pemerintah karena proyek belum terkontrak dengan pemerintah.

"2017 itu lah Menteri Keuangan menyampaikan bahwa keuangan negara tidak menginginkan untuk mengeluarkan Rp 29,9 triliun untuk membangun ini, tapi Bu Menteri Keuangan menyampaikan pemerintah akan membayar secara mencicil," tuturnya.

Menurut Didiek hal ini tidak sesuai dengan bisnis model yang diatur dalam Undang-Undang karena infrastruktur dan sarana tidak terpisah pembangunannya, yang membebani operator dalam hal ini PT KAI (Persero).

"Sehingga proyek ini agak aneh. Pemilik proyek Kementerian Perhubungan, kontraktor Adhi Karya, di Perpres 49 Kereta Api (KAI) sebagai pembayar. Jadi kalau dibuka anatomi Perpres 49, memang ini sesuatu yang tidak wajar sebetulnya namun ini dalam rangka menyelesaikan proyek strategis nasional sehingga PSO ini termasuk untuk pengembalian infrastrukturnya," jelasnya.

Selain itu, untuk pembangunan sarana LRT Jabodebek hanya dibutuhkan dana sekitar Rp 4 triliun, sementara Rp 25 triliun untuk pembangunan prasarananya. Hal ini membebani perusahaan karena perseroan harus berhutang mencapai Rp 20 triliun untuk menyelesaikan pembangunan.

Untuk melakukan pengembalian utang itu, PT KAI (Persero) harus disuntik dana oleh pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). "Jadi bagaimana kami mengembalikan utang itu kalau tidak di top up oleh pemerintah," tandasnya.

Didiek berharap kehadiran LRT Jabodebek nantinya bisa membangkitkan angkutan penumpang.

"Memang sudah ada studi lagi mengenai FS dan ini harapan saya LRT Jabodebek dari Jakarta nanti di Dukuh Atas, Bekasi di Timur, Depok di Cibubur ini bisa membangkitkan angkutan penumpang," tuturnya.

(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT