ADVERTISEMENT

Dapat Suntikan Rp 500 M, Pelabuhan Anggrek di Gorontalo Dikebut

- detikFinance
Rabu, 27 Jul 2022 09:06 WIB
Seorang penumpang sakit bersiap untuk menaiki KM Sangiang di Pelabuhan Gorontalo, Kota Gorontalo, Gorontalo, Senin (27/5/2019). Arus keberangkatan pemudik dari pelabuhan tersebut mulai mengalami peningkatan dan diprediksi naik hingga 10 persen pada Lebaran nanti. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/foc.
Ilustrasi Pelabuhan Gorontalo (Foto: ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Jakarta -

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) melakukan penandatanganan perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi bersama dengan PT Bank Negara Indonesia Persero (BNI) untuk pengembangan Pelabuhan Anggrek di Gorontalo senilai Rp 500 miliar dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pada tanggal 25 Juli 2022 di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jakarta.

Penandatanganan kerja sama ini disaksikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, dan Dirjen Perhubungan Laut Hendro Sugiatno. Dalam perjanjian pinjaman ini, IIF dan BNI masing-masing pihak memberikan kontribusi yang sama yakni sebesar Rp 250 miliar. Secara keseluruhan, pengembangan pelabuhan ini memerlukan dana sekitar Rp 1,4 triliun.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, diperolehnya pembiayaan ini membuktikan bahwa dalam semangat idealis yang tinggi, investor tetap mampu mendapat kepercayaan dari perbankan.

"Ini sangat berarti dalam mengurangi beban keuangan negara dalam membiayai pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur pelabuhan di kawasan Timur," tutur dia dalam keteangan resmi yang dikutip Rabu (27/7/2022).

Presiden Direktur IIF Reynaldi Hermansjah mengungkapkan, proyek Pelabuhan Anggrek di Gorontalo merupakan proyek pelabuhan KPBU brownfield pertama di Indonesia.

"Kami harapkan ini dapat mendukung kegiatan industri, perdagangan, distribusi dan produksi serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Gorontalo," kata dia.

Adapun Direktur Pelaksana dan Investasi IIF Idhan Harahap menambahkan, pihaknya mendukung pengembangan Infrastruktur di Indonesia, dan semoga Proyek ini bisa berjalan secara efektif dan efisien.

"Harapannya agar bisa meningkatkan konektivitas logistik Gorontalo, menciptakan daya saing Indonesia dan memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat Gorontalo dan sekitarnya," kata Idhan.

Pembangunan infrastruktur Pelabuhan Anggrek yang terletak di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo merupakan Proyek pelabuhan KPBU brownfield pertama di Indonesia, karena Pelabuhan Anggrek - Gorontalo telah beroperasi sejak tahun 2000 di bawah Kantor Kantor Unit Penyelenggara Kelas II Pelabuhan Anggrek Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Sejak 28 September 2021 pengelolaan pelabuhan Anggrek resmi diserah terimakan ke PT Anggrek Gorontalo Internasional Terminal (AGIT), sebagai Badan Usaha Pelaksana sebagai tindak lanjut hasil lelang proyek Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Pelabuhan Anggrek Provinsi Gorontalo.

Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel menyampaikan, pengembangan Pelabuhan Anggrek sudah sangat lama menjadi dambaan masyarakat, karena kapasitas yang ada selama ini sudah tidak mendukung, sehingga arus barang ke Gorontalo menjadi tidak lancar, yang pada gilirannya membuat inflasi relatif tinggi dan membebani perekonomian, serta menurunkan daya saing Gorontalo.

"Proyek ini akan memperkuat ekosistem pembangunan ekonomi bagi masyarakat Gorontalo. Tinggal bagaimana, semua stake holder mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi bersinergi untuk terus mengembangkan ekosistem perekonomian Gorontalo sehingga bisa menjadi tujuan investasi yang menguntungkan," kata Rachmat.

Pembiayaan proyek ini tidak lepas dari Social and Environmental Due Diligence sebagaimana IIF selalu terapkan pada setiap proyek yang dibiayai, sehingga proyek ini telah diakui kekhalayakan sosial dan lingkungannya. Harapan dari pembiayaan pelabuhan ini dapat meningkatkan aktifitas ekonomi di Gorontalo sehingga mengembangkan daerah yang termasuk terdepan, terpencil dan terluar.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT