Proyek MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Bengkak Jadi Rp 26 T, Ini Biang Keroknya

ADVERTISEMENT

Proyek MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Bengkak Jadi Rp 26 T, Ini Biang Keroknya

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 24 Agu 2022 20:47 WIB
Pembangunan MRT Jakarta fase 2A terus berlangsung. Perkembangan pembangunan CP 201 (Stasiun Thamrin dan Monas) fase 2A MRT Jakarta telah mencapai 40,25 persen.
Proyek MRT Jakarta/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun MRT Jakarta North-South fase II alias Bundaran HI-Jakarta Kota bengkak. Dari perencanaan semula Rp 22,5 triliun menjadi Rp 26 triliun.

"Terkait proyek kereta api, saya sampaikan proyek strategis MRT north-south dilaporkan ada kenaikan project cost dari Rp 22,5 triliun jadi Rp 26 triliun," ujar Airlangga usai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (24/8/2022).

Airlangga menjelaskan biaya membengkak karena proses pembangunannya cukup kompleks. Ditambah kondisi lahan tidak stabil.

"(Pembengkakan biaya) terjadi akibat kompleksitas konstruksi dan kondisi lahan tidak stabil dan ini masuk di dalam Kota Tua sehingga tentunya perlu lebih berhati-hati secara struktur," kata Airlangga.

Titik Akhir MRT Jakarta Bisa Berubah

Dalam rancangan awal, MRT Jakarta north-south fase II akan berakhir di Ancol Barat. Dikarenakan kondisi lahan tidak stabil, pemerintah sedang mencari alternatif tempat lain.

"Arahan Presiden tentu untuk melihat titik akhir dari pada proyek ini, karena titik akhirnya yang direncanakan sekarang di Ancol Barat itu ada beberapa masalah lahan, sehingga diminta dipertimbangkan katakanlah dicarikan alternatif lain di Ancol atau Marina," beber Airlangga.

Rentang MRT Jakarta North-South fase II mencapai 12,3 kilometer (km) dan seluruhnya bawah tanah. Ini berbeda dengan proyek sebelumnya di mana rentang MRT Jakarta North-South fase I mencapai 15,7 km di mana 5,7 km bawah tanah dan sisanya di atas tanah.

Terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya sedang meminta timnya untuk mengevaluasi pembengkakan biaya proyek MRT Jakarta tersebut. Dia menyebut akan mengusahakan agar tidak perlu sampai ada pinjaman tambahan.

"Kita minta kepada tim kami untuk mengevaluasi. Pak presiden memberikan perhatian juga bahwa angka dari konstruksi ini tidak boleh terlalu tinggi. Kita usahakan tidak perlu loan tambahan. Kita akan balikkan lagi dengan loan yang ada," kata Budi Karya kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT