ADVERTISEMENT

Dirut Railink Cerita Berdarah-darah Awal Bangun Kereta Bandara Soetta

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 15 Sep 2022 17:32 WIB
Kereta bandara akan berhenti beroperasi selama larangan mudik 2021. Begini suasana kereta bandara sehari jelang larangan mudik diberlakukan.
Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Direktur Utama PT Railink Porwanto Handry Nugroho menceritakan bagaimana awalnya PT Railink atau KAI Bandara ditugaskan untuk membangun kereta bandara. Ia mengaku berdarah-darah dalam KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

"Waktu 2018 awal kita bisa melayani KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta, memang berat Railink ini membangun KA Bandara Soekarno-Hatta karena investasi yang besar, tidak mendapatkan subsidi, sehingga kami berdarah-darah perjalanannya untuk kami menghubungkan masyarakat pusat kota menuju bandara," jelasnya dalam webinar Kadin Indonesia Bidang Perhubungan-INACA, Kamis (115/9/2022).

Terlebih lagi, dari sisi tarif kereta memang lebih mahal dari transportasi darat lainnya.

"Sisi tarif memang kami sebenarnya bisa bersaing namun aksesibilitas hanya dari pusat kota ke bandara. Berbeda dengan transportasi lain bisa door to door atau mungkin bisa beberapa tujuan sekali perjalanan,"lanjutnya.

Porwanto juga mengatakan awalnya, pihaknya tidak langsung membangun KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena pada saat awal banyak masalah koordinasi. Makanya pembangunan KA Bandara pertama yakni KAI Bandara Kualanamu di Medan.

"Karena waktu itu dari pusat kota menuju luar kota membutuhkan transportasi yang memadai, maka didahulukan kemudian infrastruktur KAI Kualanamu beroperasi pada 2013. Barulah di awal 2018 kita bisa melayani KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta," lanjutnya.

Adapun kendala yang dialami KAI Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Kualanamu Medan adalah akses yang tidak menghubungkan pemukiman ke bandara. Karena aksesnya ke pusat kota, di mana dominasi pusat perekonomian dan perkantoran.

Namun, untuk KAI Bandara Internasional Soekarno-Hatta berjalannya waktu mulai banyak akses yang menjangkau pemukiman untuk akses orang ke bandara.

"Munculah MRT beroperasi volume kami naik, karena (pemukiman) bisa menggunakan MRT ke stasiun kami, pembangunan Manggarai, sekarang konektivitas dengan KRL sudah terjalin volumenya kembali naik. Walaupun 2020 ada pandemi kembali turun karena penumpang pesawat turun drastis," ujarnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT