ADVERTISEMENT

Terungkap! Ini Penyebab Bandara di RI Ada yang Mati Suri

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Sep 2022 10:04 WIB
Sederet bandara dibangun di berbagai lokasi dengan kucuran uang APBN. Ironisnya, setelah selesai dibangun bandara itu malah jadi sepi bagaikan mati suri.
Foto: Bima Bagaskara/detikcom
Jakarta -

Sejumlah bandara kini mati suri karena sepi penumpang hingga tidak beroperasi. Padahal bandara sepi tersebut dibangun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang jumlahnya tidak sedikit.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan sebuah bandara bisa sepi karena keberadaannya kurang memperhatikan potensi dan kebutuhan pasar. Pasalnya sebelum membangun bandara itu butuh berbagai pertimbangan yang sangat matang.

"Itu lah konsekuensi kalau memperlakukan bandara sebagai prestasi politik. Pokoknya ada bandara dan seolah-olah kalau ada bandara, penerbangan langsung datang sendiri. Saya melihat bandara yang dibangun lebih untuk kepentingan politik, jadi seolah-olah 'ini lho sudah dibangunkan bandara' tapi tidak melihat aspek-aspeknya," kata Alvin Lie, Senin (19/9/2022).

Alvin Lie menjelaskan dalam membangun bandara harus memahami pola pergerakan penduduk di wilayah bandara sepi itu sendiri. Kemudian harus diperhatikan juga kebutuhan dan daya beli masyarakatnya di sekitar bandara tersebut.

"Membangun bandara itu membutuhkan pertimbangan yang sangat rumit karena harus memahami pola pergerakan penduduk di wilayah bandara itu sendiri, kebutuhannya ke mana, bukan hanya pada saat ini tapi hingga 50 tahun ke depannya seperti apa," tuturnya.

Kemudian di wilayah bandara juga harus diperhatikan konektivitas masyarakat untuk menuju dari dan ke bandara. Tak hanya sampai di situ, layanan penunjang bagi pekerja dan penumpang juga harus disediakan.

"Bandara ini tidak hidup sendirian, di lingkungan bandara dibutuhkan penyangganya. Misalnya pekerja bandara itu kan butuh tempat tinggal, di sekitar bandara itu sudah ada tempat tinggal belum untuk kost misalnya? Kemudian yang kerja di bandara juga butuh tempat untuk belanja, makan, hiburan. Kalau penumpang sakit ada klinik atau rumah sakit nggak di sana, hal-hal seperti ini tidak dipikirkan," jelasnya.

Seperti diketahui, ada beberapa bandara yang mati suri di Indonesia seperti JB Soedirman di Purbalingga, Bandara Ngloram di Blora, dan Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya. Sementara Bandara Kertajati di Majalengka dalam waktu dekat akan diaktifkan lagi seiring akan beroperasinya Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu).

Keberadaan tiga dari empat bandara itu disebut terlalu dipaksakan karena sebetulnya sudah ada alternatif transportasi publik lain yang lebih mudah dijangkau yakni kereta api. Daya beli masyarakat di sana untuk menggunakan pesawat juga disebut tidak banyak.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno menyarankan agar bandara sepi tersebut mengubah rute penerbangan tidak harus ke Jakarta, melainkan ke beberapa kota di Kalimantan.

"Banyak warga Tasikmalaya, Blora dan Purbalingga yang mencari nafkah dan bekerja di Kalimantan. Jika ke-3 bandara tersebut (Bandara JB Soedirman, Bandara Ngloram, dan Bandara Wiriadinata) bisa membuka jalur penerbangan ke beberapa kota di Kalimantan, akan mendekatkan ke tempat tinggalnya," tutur Djoko dihubungi terpisah.



Simak Video "Ini Deretan Bandara di Indonesia yang Mati Suri"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT