Pemerintah Kok Rela Tambal Biaya Kereta Cepat yang Bengkak Terus?

ADVERTISEMENT

Pemerintah Kok Rela Tambal Biaya Kereta Cepat yang Bengkak Terus?

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 19 Okt 2022 12:58 WIB
Progres pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) sejauh ini sudah mencapai 88,8 persen. Salah satunya pembangunan Stasiun Tegalluar di Kabupaten Bandung.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut kelebihan biaya (cost overrun) kereta cepat Jakarta-Bandung akan ditanggung oleh pemerintah Indonesia dan China. Biaya itu disebut masih lebih murah karena dibangun saat ini.

Erick mengatakan biaya akan jauh lebih mahal jika pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung ditunda. Untuk itu, pembangunan yang saat ini sudah berjalan dimaksimalkan agar bisa selesai sesuai target terbaru yakni Juni 2023.

"Cost overrun itu kalau dihitung total masih lebih murah kalau dibangun hari ini karena harga baja naiknya luar biasa dan juga yang lain-lainnya naik. Itu lah mengapa ini menjadi sebuah proyek yang hasilnya valid," kata Erick di Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2022)..

Lagi pula Erick menyebut keberadaan kereta cepat Jakarta-Bandung bisa memangkas jumlah konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

"Kita bisa menghemat yang namanya BBM, yang (tadinya) Jakarta-Bandung itu berjam-jam sekarang hanya 36 menit. Itu menghemat berapa?," tuturnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan pembengkakan biaya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung rencananya bakal ditambal dari sejumlah sumber yakni konsorsium pemegang saham maupun pinjaman (loan).

Sebesar 25% dari biaya tambahan kereta cepat Jakarta-Bandung ditanggung konsorsium BUMN yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium China yakni Beijing Yawan HSR Co Ltd sesuai komposisi saham. Sisanya sebanyak 75% dari pembengkakan biaya akan ditutup melalui utang.

Sebagaimana diketahui, PSBI memegang 60% saham pada PT Kereta Cepat Indonesia (KCIC) sebagai pemilik proyek dan 40% dimiliki Beijing Yawan.

Diperkirakan konsorsium BUMN Indonesia akan menambal bengkak biaya sekitar Rp 4 triliun yang berasal dari penyertaan modal negara (PMN) lewat PT KAI (Persero). Sementara, konsorsium China diperkirakan akan menambal Rp 3 triliun.

"Nanti yang 75% kita akan cari loan. Loan yang akan dibayar pada saat sudah mulai operasional. Di situ dimasukkan dalam semuanya, jadi dimasukkan dalam loan juga 75% itu. Itu yang akan diperkirakan apakah cari dari perbankan mana, mungkin dari China, atau dari mana," kata Arya di Tennis Indoor Senayan Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Simak juga video 'Terobos Tradisi: Dagang Bis Listrik hingga Bikin Kereta Cepat Sendiri':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT