Sejarah Panjang Jalur Trem Batavia yang Ditemukan di Proyek MRT Jakarta

ADVERTISEMENT

Sejarah Panjang Jalur Trem Batavia yang Ditemukan di Proyek MRT Jakarta

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 16 Nov 2022 14:18 WIB
Trem Kuno
Foto: Trem Kuno (Herdi Alif Al Hikam/detikcom)
Jakarta -

Temuan trem kuno di balik proyek MRT Jakarta memiliki riwayat yang sangat panjang. Kisahnya bermula dari gerbong yang ditarik kuda hingga menjadi sebuah kereta ringan bertenaga listrik.

Salah satu tim arkeolog yang menangani temuan di proyek MRT Fase II Charunia Arni Listya D membeberkan perjalanan jalur trem yang ditemukan di proyek MRT Jakarta Harmoni. Riwayat jalur trem itu diketahui dimulai sejak tahun 1869, tepat saat Belanda berkuasa di Hindia Belanda dan Jakarta masih bernama Batavia.

Awalnya, bukan berbentuk trem, melainkan gerbong-gerbong angkutan penumpang dan barang yang ditarik kuda. Hanya saja gerbong itu ternyata menyebabkan banyak masalah. Mulai dari banyaknya kuda yang mati kelelahan hingga masalah kebersihan kota.

"Kita menemukan struktur rel trem yang jaringannya sudah ada sejak tahun 1869, tapi masih trem kuda waktu itu. 2-3 gerbong ditarik kuda dengan beban berat. Pada saat itu banyak kuda mati, dan kejadian itu diprotes banyak orang Eropa. Sekitar 200-an kuda mati saat itu," ungkap arkeolog yang akrab disapa Lisa itu di lokasi penemuan trem di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Rabu (16/11/2022).

"Di sisi lain, wajah kota jadi nggak bersih karena kotoran kuda sepanjang jalur trem," lanjutnya.

Melihat permasalahan yang terjadi, pemerintah Belanda saat itu mengubah jalur trem yang tadinya diangkut makhluk hidup dengan trem bertenaga uap di sekitar penghujung 1880-an.

"Lokomotif diimpor dari Jerman, gerbongnya dari Belgia dan Belanda. Tenaganya pakai ketel uap yang diisi tenaga uap tegangan tinggi di tiap depo uap," jelas Lisa.

Namun, masalah kembali muncul pada trem dengan lokomotif uap. Paling sering terjadi adalah trem yang mogok saat musim hujan tiba karena kedinginan.

"Seringkali tremnya mogok juga, apalagi kalau kena udara dingin saat musim hujan," sebut Lisa.

Maka muncul usulan untuk menggunakan rel trem listrik, usulan itu kembali disuarakan oleh pemerintah Belanda di penghujung 1920-an. Maka dari itu, mulai tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan elektrifikasi trem di Batavia.

"Elektrifikasi rel trem uap berlangsung selama 2-3 tahun, setidaknya 1934 ketika semua permasalahan dengan wilayah selesai. Elektrifikasi rel trem selesai. Nah inilah yang saat ini yang kita lihat adalah rel trem listrik," ujar Lisa.

Trem listrik itu ternyata terus digunakan, bahkan setelah Indonesia merdeka di tahun 1945. Setidaknya trem listrik terus digunakan sampai awal 1960-an.

Melihat Rel Trem Kuno Peninggalan Belanda di Proyek MRT Fase 2:

[Gambas:Video 20detik]



Lanjut ke halaman berikutnya

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT