Soal 'Suntik Mati' KA Parahyangan, Erick Sarankan Jadi Kereta Barang

ADVERTISEMENT

Soal 'Suntik Mati' KA Parahyangan, Erick Sarankan Jadi Kereta Barang

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 05 Des 2022 16:40 WIB
Erick Thohir
Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan terkait isu 'suntik mati' KA Argo Parahyangan setelah pengoperasian Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan. Namun dia memberikan usul atau saran KA Argo Parahyangan menjadi kereta barang.

Erick menilai dalam persoalan kereta ini, salah satu alternatif yang menurutnya bisa dilakukan ialah dengan mengubah KA Argo Parahyangan menjadi kereta barang atau kargo.

"Yang namanya kereta kan bisa juga jadi kereta barang. Karena Indonesia ini nggak punya yang namanya kereta barang. Nah untuk penumpangnya bisa juga dengan kereta cepat," katanya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/12/2022).

Meski begitu, dia menekankan, terkait urusan kereta api merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan. Oleh karena itu dia menyerahkan sepenuhnya keputusan itu ke kementerian yang dipimpin oleh Budi Karya Sumadi itu. "Saya rasa itu kembali yang namanya kebijakan soal kereta dan lain-lain tu kan ada di Pak Menhub," tegasnya.

Erick menekankan pada pentingnya sinkronisasi antara Kementerian BUMN dan Perhubungan, serta dengan seluruh ekosistem di Jawa Barat. Salah satu contohnya terlihat pada Bandara Kertajati.

"Kita sering sekali kebiasaan mengambil kebijakan sendiri-sendiri gitu. Itu yang sering saya tekankan beberapa kali bahwa hasil sinkronisasi kami dengan Kementerian Perhubungan kan salah satunya itu Bandara Kertajati dijadikan airport untuk kargo," terangnya.

Sementara ketika ditanya menyangkut tarif kereta cepat yang kurang ekonomis, Erick mengatakan, tentunya pemerintah akan mempertimbangkan hal tersebut. Yang mana tarif KCJB sendiri dipatok di kisaran Rp 250 ribu. Sementara KA Agro Parahyangan sendiri bisa berada pada kelas yang berbeda.

"Ya pasti dong. Kan tadi ada harga yang berbeda. Kalau kereta cepat bisa Rp 250 ribu, Parahyangan bisa Rp 100-150 ribu. Kan bisa aja, kelasnya berbeda," ucapnya.

Erick juga menilai tidak menutup kemungkinan juga perihal penyesuaian kelas kereta antar keduanya maupun pergantian menuju kereta kargo tersebut.

"Bisa aja. Itu bagian dari startegi besar. Kan semuanya harus berjalan berkesinambungan," pungkasnya.

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT